MATERI KEPENULISAN
Tentang literasi, perlu kita garis bawahi bahwa literasi tak cuma tentang baca tulis saja. Tapi nyaris menyentuh ke segala hal yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan daya kembang pribadi. Apa pun yang kemudian menunjang kreativitas atau memicu daya kerja pikiran kita, itu pun juga literasi.Kalau teman-teman percaya bahwa minat baca di Indonesia rendah, dan lalu tanpa melakukan apa pun kita menghakimi demikian, itu namanya belum menyentuh literasi.
Aku sendiri termasuk orang yang percaya bahwa kita punya minat baca yang tinggi. Kita juga bahkan tinggi dalam minat menemukan ilmu baru, minat mendapatkan banyak pengalaman, dan minat-minat positif lainnya—yang memberi banyak manfaat. Pada intinya, teman-teman. Bagaimana cara menghadapi era perkembangan zaman saat ini—di bidang literasi—adalah poinnya. Kita memegang gawai nyaris setiap hari. Mestinya kita mulai mencari tahu, apa saja yang belum kita tahu—sesuai minat masing-masing. Semakin meningkat rasa penasaran itu, akan semakin terasa bahwa kita nyaris tak tahu apa-apa. Dan, karenanya, kita perlu untuk ngeyel dan bandel dalam mencari tahu, terlalu luas lingkupnya untuk membahas sesuatu bernama literasi dan sejenisnya. Hal pokok yang perlu kita sadari lebih dulu, adalah menyelesaikan pertanyaan-pertanyaan dalam diri: apa yang harus kulakukan? Siapa yang harus kucai tahu? Bagaimana ini bisa terjadi? Dan sebagainya..
MATERI
πKalimat Efektif
πKalimat efektif adalah kalimat yang memiliki kemampuan untuk menimbulkan kembali gagasan-gagasan pada pikiran pembaca atau pendengar seperti apa yang ada dalam pikiran penulis atau pembicara.
πKalimat efektif memiliki ciri-ciri yang sangat khas, yaitu kesepadanan struktur, kepararelan, ketegasan, kehematan kecermatan, kepaduan dan kelogisan.
Berikut ini kita bahas ciri-ciri kalimat efektif tersebut satu per satu. πa. Kesepadanan Stuktur
Yang dimaksud dengan kesepadan di sisi adalah keseimbangan antara pikiran atau gagasan dengan struktur bahasa yang dipakai. Kesepadanan kalimat memiliki ciri sebagai berikut
π1. Kalimat itu memiliki subjek dan predikat yang jelas. Kejelasan fungsi subjek dan predikat dalam kalimat dapat dilakukan dengan menghindari pemakaian kata depan di, dalam, bagi, untuk, pada, dan sebagainya di depan subjek. Contoh:
Bagi semua mahasiswa harus membayar uang kuliag. (Salah)
Semua mahasiswa harus membayar uang kuliah. (Benar)
π2. Tidak memiliki dua subjek.
Contoh:
Soal itu saya kurang jelas.
Kalimat di atas memiliki dua subjek yaitu soal itu dan saya. Munculnya dua subjek tersebut diakibatkan oleh proses penggabungan kalimat yang tidak tepat. Kalimat itu sebenarnya berasal dari dua kalimat tunggal yang memiliki predikat yang sama dan subjeknya berbeda.
Kalau kita uraikan, kalimat tersebut maka akan menjadi sebagai berikut:
Soal itu kurang jelas.
Saya kurang jelas.
Untuk menghindari terjadinya subjek ganda seperti kalimat di atas maka salah satu subjek harus diposisikan sebagai keterangan dengan menyisipkan kata bagi atau kata mengenai.
Perhatikan kalimat berikut:
Soal itu bagi saya kurang jelas.
Saya kurang jelas mengenai soal itu.
π3. Kata hubung intrakalimat tidak dipakai pada kalimat tunggal. Contoh:
Kami datang agak terlambat. Sehingga tidak bisa mengikuti acara pertama.
Kata sehingga pada kalimat di atas mengawali kalimat tunggal, padahal kata hubung tersebut harus digunakan dalam tataran kalimat majemuk bukan pada kalimat tunggal.
Kedua kalimat tersebut supaya menjad kalimat yang efektif harus digabungkan sehingga membentuk kalimat majemuk.
Kami datang agak terlambat sehingga tidak bisa acara pertama. π4. Predikat kalimat tidak boleh di dahului oleh kata yang. Penggunaan kata hubungan yang di antara subjek dan predikat mengakibatkan fungsi predikat menjadi lesap atau hilang. Fungsi predikat yang didahului oleh kata hubung yang bergeser fungsinya menjadi keterangan.
Contoh:
Sekolah kami yang terletak di depan bioskop Gunting. S K
Kalimat di atas tidak mempunyai predikat, hanya berpola S – K. Hal ini, mengakibatkan kalimat tersebut tidak memenuhi syarat sebagai kalimat karena salah satu syarat kalimat adalah memiliki unsur S – P.
Agar kalimat itu mnjadi efektif maka kata hubung yang harus dihilangkan.
Sekolah kami terletak di depan bioskop Gunting. S P K πb. Kepararelan Kepararelan adalah kesamaan bentuk kata yang digunakan dalam kalimat, artinta, dalam kalimat yang mmpunyai pemerian atau uraian kalau bentuk pertama menggunakan kata benda maka bentuk kedua dan seterusnya harus menggunakan kata benda. Kalau bentuk pertama manggunakan kata kerja maka bentuk kedua dan seterusnya harua menggunakan kata kerja.
Contoh:
Tahap terakhir penyelesaian gedung itu adalah kegiatan pengecatan tembok, memasang penerangan, dan pengujian sistem pembagian air. Pada kalimat di atas ada satu bagian yang berbeda yaitu kata memasang sedangkan dua bagian pemerian lainnya benbentuk pengecatan dan pengujian.
Perbaikan kalimat diatas bisa dilakukan dengan cara menyejajarkan bentuk yang ada dalam pemerian, yaitu:
Tahap terakhir penyelesaian gedung itu adalah kegiatan pengecatan tembok, pemasangan penerangan, dan pengujian sistem pembagian air. Atau:
Tahap terakhir penyelesaian gedung itu adalah kegiatan mengecat tembok, memasang penerangan, dan menguji sistem pembagian air.
πc. Ketegasan Yang dimaksud dengan ketegasan di sini adalah suatu perlakuan penonjolan pada ide pokok kalimat. Ada berbagai cara unuk melakulan penagasan terhadap ide poko, yaitu meletakan ide pokok yang akan ditonjolkan di depan kalimat, membuat urutan kata yang logis, melakukan pengulangan kata, Melakukan pertentangan terhadap ide yang ditonjolkan, dan menggunakan partikel penegas.
Contoh:
Harapan Presiden adalah agar rakyat membengun bangsa dan negara.
Bukan seratus, seribum, atau sejuta, tetapi berjuta-juta rupiah ia telah membantu anak-anak terlantar. Saya suka akan kecantikan mereka, saya suka akan kelembutan mereka.
Anak itu malas dan curang , tetapi rajin dan jujur.
Saudaralah yang bertanggung jawab.
πd. Kehematan Kehematan dalam kalimat efektif adalah hemat mempergunakan kata, frasa, atau menghindari penggunaan kata, frasa yang dianggap tidak perlu.
Ada beberapa kriteria yang harus diperhatikan dalam memenuhi unsur kehematan, yaitu:
π1. Menghindari pengulangan subjek.
Contoh:
Karena ia tidak diundang, dia tidak datang ke pesta itu. (tidak hemat)
Karena tidak diundang, dia tidak datang ke pesta itu. (hemat)
π2. Menghindari pemakaian superordinat pada hiponimi kata. Contoh:
Ia memakai baju warna merah. (tidak hemat)
Ia memakai baju merah. (hemat)
\\
π3. Menghindari pemakaian kata yang bersininim dalam satu satuan kalimat. Contoh:
Sejak dari pagi ia termenung. (tidak hemat)
Sejak pagi ia termenung. (hemat)
Dari pagi ia termenung. (hemat) π4. Tidak menjamakkan kata-kata yang sudah jamak. Contoh:
Tidak hemat hemat
Para tamu-tamu para tamu/ tamu-tamu
Para hadirin hadirin
Beberapa-orang-orang beberapa orang/ orang-orang πe. Kecermatan Cermat dalam hal ini adalah kalimat yang disusun tidak menimbulkan tafsiran ganda dan tepat dalam pilihan kata.
Contoh:
Mahasiswa perguruan tinggi yang terkenal itu menerima hadiah.
Kalimat di atas bisa bermakna ganda, maksudnya orang yang membaca kalimat itu bisa memaknainya berbeda antara orang yang satu dan lainnya. Orang yang membaca kalimat itu bisa menfsirkan yang terkenal itu adalah mahasiswa dan yang lain bisa menafsirkan yang terkenal itu adalah perguruan tinggi.
Kalimat itu harus dipertegas dengan menggunakan kata penunjuk dari.
Contoh.
Mahasiswa dari perguruan tinggi yang terkenal itu menerima hadiah. πf. Kepaduan Kepaduan yaitu pernyataan dalam kalimat itu tiak terpecah-pecah, bertele-tele. Dengan kata lain kalimat yang disusun harus sistematis. Kalimat yang padu harus mempergunakan pola aspek + agen + verbal secara tertib dalam kalimat yang berpredikan persona. Contoh.
Surat itu saaya sudah baca. (Tida padu)
Surat itu sudah saya baca. (padu) πg. Kelogisan Kelogisan yaitu ide kalimat dapat diterima oleh akal dan sesuai dengan kaidah yang v berlaku.
Contoh.
Waktu dan tempat kami persilakan. (tidak logis)
Bapak Menteri kami persilakan. (logis)
PERBEDAAN ANTARA BLURB DAN SINOPSIS*
Sama seperti mencari tahu hati doi yang suka ngegantung padahal kita bukan jemuran. Kita pun harus mencari tahu perbedaan antara blurb dan sinopsis agar nggak keliru lagi, Teman-teman.
Sinopsis merupakan ringkasan sebuah cerita secara lengkap. Mulai dari awal, konflik, hingga penyelesaian masalah, tidak ada yang ditutup-tutupi. Biasanya penerbit-penerbit menggunakan ketentuan pengiriman naskah seleksi dengan mengirim sinopsis dan beberapa bab naskah. Nah, ini mengapa teman-teman nggak perlu membuat sinopsis _ngegantung_ karena editor bukan cenayang yang bisa tahu ke mana alur cerita yang teman-teman buat. Tulis saja semuanya. Tuntas. Hingga karakter tokoh-tokoh cerita di sana. Netral. Tanpa ada embel-embel bikin editor penasaran dengan membuat sinopsis ceritamu gantung.
Berbeda dengan sinopsis yang merupakan ringkasan lengkap cerita, blurb ini penarik pembaca. Jadi, nggak boleh ditulis sedemikian rupa seperti sinopsis. Blurb adalah penjelasan singkat dari isi cerita. Poin pentingnya. Biasanya blurb berisi kutipan, testimoni, ringkasan cerita, poin-poin penting dalam cerita yang membuat penasaran si pembaca. Nah, blurb ini bisa kalian buat _ngegantung_. Karena itu tujuannya; menarik orang agar membaca ceritamu.
CARA PRAKTIS MENULIS PUISI
Puisi adalah maha karya yang lahir dari hasil imaji seseorang berdasarkan fakta, kejadian yang membekas bagi penulis itu sendiri atau orang lain . Menulis puisi maupun tulisan fiksi lainnya tetap berpijak pada fakta yang kemudian berkolaborasi dengan dunia imajinasi penulis. Menulis puisi memang nampak mudah tapi tetap butuh pengetahuan, instuisi yang tajam dan otak yang cerdas. Beberapa point di bawah adalah teknik praktis ala saya berdasarkan pengalaman selama ini yang tentunya tidak sama bagi setiap penulis puisi.
1. Membaca Jangan mengaku mau jadi penulis jika tak suka membaca. Dengan membaca kosa kata, ide, dan pengalaman batin kita terasah.
2. Membaca
3. Membaca
Point membaca saya ulang karena memang sesungguhnya modal dasar seorang penulis adalah *membaca*
4. Menulis
Setelah membaca tekadkan niat untuk menulis jangan pernah menundanya. Tulis saja jangan takut salah, jangan merasa tidak bisa. Mulailah menulis hal-hal yang berkaitan dengan diri anda. Biasanya pemula tergantung *moody* nah kalau lagi punya masalah ya tuangkan saja ke dalam tulisan. Pakai metode curhat daripada curhat di medsos lebih baik asah diri menulis di words. Manfaatkan medsos untuk pamer karya saja atau tulislah clue tulisan tapi dengan taggar khusus penanda itu adalah ide.
5. Berkomunitas
Setelah menulis, tentunya kita membutuhkan pembaca yang satu jalur yaitu kepenulisan. Gabunglah dengan beberapa komunitas, berbaur dengan rendah hati lalu setiap selesai menulis, kirim ke komunitas dengan memohon kritikan yang jujur, saran untuk karya yang lebih baik. Jangan pernah mengharap pujian karena pujian justeru sering melenakan dan membuat kita jalan di tempat.
6 Reward
Setiap menyelesaikan tulisan berilah penghargaan ke diri anda, seperti jalan, membaca bacaan yg anda sukai.
7. Menulis
Kembalilah menulis jangan cuma bermimpi jadi penulis tapi baru setengah jalan sudah puas.
CARA MEMBUAT CERITA/NOVEL YANG BAIK DAN MENARIK
SATU
Tulis apa yang kamu ketahui. Tulis pengalaman pribadimu. Itu adalah cara menulis novel yang baik. Tetapi jika kamu ingin menulis tentang sesuatu di luar pengalamanmu, maka kamu harus bisa mengerjakan lebih banyak PR.
Sebenarnya tidak masalah ketika kamu ingin menulis cerita yang diluar pengalamanmu, namun kamu harus mengetahui dan cukup memahami tentang permasalahan tersebut. Misalnya kamu ingin membuat novel dengan latar belakang luar negeri, negara Spanyol misalnya, setidaknya kamu harus membaca hal-hal yang berkaitan tentang Spanyol. Apa makanan khasnya, bagaimana sejarah bangsanya, apa bahasanya, bagaimana gaya hidupnya, bagaimana tata krama yang lazim digunakan. Intinya kamu harus meriset kecil-kecilan tentang Spanyol.
DUA
Jangan tulis semua yang kamu tahu. Tulislah setiap karakter sampai terlihat senyata mungkin. Sebab pembaca tidak ingin membaca profil biografi lengkap dari setiap karakter. Tulislah secukupnya, sesuai dengan keperluan cerita saja.
TIGA
Jangan hanya menyebutkan tapi buatlah adegan. Misalnya kamu ingin menulis tentang rumah tangga yang bermasalah. Sang ibu mengetahui sang bapak telah berselingkuh dengan wanita lain, terjadilah pertengkaran hebat antara suami istri. Buatlah adegannya. Pembaca ingin melihat dan mendengar pertengkaran itu. Jangan hanya menyebutkan. Tampilkan kepada pembaca apa yang sang istri katakan dan apa jawaban suaminya. Tampilkan bahasa tubuh mereka. Tampilkan reaksi anak mereka yang menyaksikan pertengkaran itu. Tampilkan noda hitam di dinding setelah sang istri melempar gelas berisi kopi dan adegan lainnya. Jika kamu membuat adegannya sehidup mungkin, maka kamu akan membuat pembaca seolah sedang menonton sinetron atau film. Itu baik karena pembaca akan menyenangi ceritamu.
EMPAT
Tulislah sinopsis novel dalam. Jika kamu merasakan kejanggalan dalam menulis sinopsis itu berarti ide-idemu belum cukup terfokuskan. Kamu harus menambahkan kekurangan itu.
*Macam-macam Sudut Pandang (Point of View)* *1. SUDUT PANDANG ORANG PERTAMA* Sudut pandang orang pertama biasanya menggunakan kata ganti “aku" atau “saya" atau juga “kami” (jamak). Pada saat menggunakan sudut pandang orang pertama, Anda seakan-akan menjadi salah satu tokoh dalam cerita yang sedang dibuat. Si pembaca pun akan merasa melakoni setiap cerita yang dikisahkan. *Sudut Pandang Orang Pertama (Tokoh Utama)* Sesuai dengan namanya–sudut pandang orang pertama (tokoh utama)– penulis seolah-olah ‘masuk’ dalam cerita tersebut sebagai tokoh utama/tokoh sentral dalam cerita (first person central). Segala hal yang berkaitan dengan pikiran, perasaan, tingkah laku, atau kejadian yang tokoh “aku" lakukan akan digambarkan pada cerita tersebut.
Ia akan menjadi pusat kesadaran dan pusat dari cerita. Jika ada peristiwa/tokoh di luar diri “aku", peristiwa/tokoh itu akan diceritakan sebatas keterkaitan dengan tokoh “aku".
*Contoh sudut pandang orang pertama tokoh utama:* Aku sedang mengamati jarum jam yang bergerak tergesa di pojok ruangan. Ukiran jati bertuliskan huruf Jawa kuno menjadi saksi bisu kelahiranku. Ditempat ini, 20 tahun lalu aku dilahirkan.
*Sudut Pandang Orang Pertama (Tokoh Sampingan)* Pada teknik ini, tokoh “aku" hadir tidak dalam peran utama, melainkan peran pendukung atau tokoh tambahan (first personal peripheral). Kehadiran tokoh “aku" dalam cerita berfungsi untuk memberikan penjelasan tentang cerita kepada pembaca.
Sementara tokoh utama, dibiarkan untuk menceritakan dirinya sendiri lengkap dengan dinamika yang terjadi. Dengan kata lain, tokoh “aku" pada teknik ini hanya sebagai saksi dari rangkaian peristiwa yang dialami oleh tokoh utama.
*Contoh sudut pandang orang pertama tokoh sampingan:* Sekali lagi aku dibuat kaget dengan suara pintu dari samping kamarku. Karina pergi terburu-buru sambil lari tunggang langgang. Sepertinya ia terlambat kuliah lagi. Karina adalah gadis yang manis, ia ramah dengan semua orang. Tidak heran jika banyak orang menyukainya.
*2. SUDUT PANDANG ORANG KETIGA* Pada teknik sudut pandang orang atau pihak ketiga. Kata rujukan yang digunakan ialah “dia" “ia" atau nama tokoh dan juga mereka (jamak). Kata ganti ini digunakan untuk menceritakan tokoh utama dalam sebuah cerita.
Selain kata ganti yang digunakan, ada satu hal lagi yang membedakan antara sudut pandang orang pertama dan sudut pandang orang ketiga, yaitu kebebasan peran di dalam cerita. Pada sudut pandang orang pertama, penulis bisa menunjukkan sosok dirinya di dalam cerita, dan ini tidak berlaku pada sudut pandang orang ketiga.
Pada sudut pandang orang ketiga, si penulis berada ‘di luar’ isi cerita dan hanya mengisahkan tokoh “dia" di dalam cerita.
*Sudut Pandang Orang Ketiga (Serba Tahu)* Pada sudut pandang orang ketiga serba tahu, si penulis akan menceritakan apa saja terkait tokoh utama. Dia seakan tahu benar tentang watak, pikiran, perasaan, kejadian, bahkan latar belakang yang mendalangi sebuah kejadian.
Ia seperti seorang yang maha tahu tentang tokoh yang sedang ia ceritakan.Oh ya, selain menggunakan kata ganti “ia" atau “dia", kata ganti yang biasa digunakan ialah nama dari si tokoh itu sendiri. Hal ini berlaku juga untuk sudut pandang orang ketiga (pengamat).
Contoh sudut pandang orang ketiga serba tahu: Sudah 6 bulan ini Kanaya terjun pada dunia tarik suara. Ayah dan ibunya tidak ada yang merestui jalur karier yang ia geluti. Ia sampai beradu argumen dengan sang ayah yang memang memiliki watak keras. Keduanya sempat bersitegang sebelum akhirnya dipisahkan oleh sang ibu dengan derai air mata.
*Sudut Pandang Orang Ketiga (Pengamat)* Teknik ini hampir sama dengan teknik sudut pandang orang ketiga serba tahu, hanya saja, tidak semaha tahu teknik tersebut. Pada sudut pandang orang ketiga penulis menceritakan sebatas pengetahuannya saja.
Pengetahuan ini diperoleh dari penangkapan pancaindra yang digunakan, baik dengan cara mengamati (melihat), mendengar, mengalami, atau merasakan suatu kejadian di dalam cerita. Pengamatan pun dapat diperoleh dari hasil olah pikir penulis tentang tokoh “dia" yang sedang ia ceritakan.
Contoh Sudut Pandang Orang Ketiga Pengamat: Entah apa yang terjadi dengannya seminggu belakangan ini. Pulang dari kantor langsung menunjukkan muka masam. Belum lagi puasa bicara yang sudah ia lakukan seminggu belakangan ini. Apa mungkin karena hubungan dia dan saudaranya merenggang?
"3. Sudut Pandang Campuran* Pada sudut pandang campuran, penulis dapat menggabungkan antara sudut pandang orang pertama dan orang ketiga. Ada kalanya penulis ‘masuk’ ke dalam cerita (bukan sebagai tokoh utama) dan ada kalanya dia berada di luar cerita menjadi orang yang serba tahu.
Komentar
Posting Komentar