SASTRA
FABEL-ENGLISH
Lost Lamb
That morning Dombi And her mother was busy rating grass, because it was afternoon, the mother of Dombi took home, but ignored by Dombi. He remained eager to eat the grass. Dombi still fun chewing grass, a few moments later he realized that his mother and hordes of other goats was no more. Now he realized that he was alone, when the sun was sinking, and the wolves usually appeared when it was already evening. With fear, a little Dombi dan with all his Strength as he continued to call his mother.
“Mom ... Don't leave Dombi Alone. ” He shouted.
Suddenly, in the middle of the road Dombi was blocked by a big wolf.
“Hey little lamb, where you want to run?” Askes the wolf.
Dombi seemed looked very frightened, He immediately seek immediate sense.
“Oh good lord Wolf, i'm just a poor little lamb, if you want to way me please, but please sing me a song with your flute, because i want to dance before you eat,” said Dombi Shaking.
Big wolf was immediately complied Dombi, and beban to play the flute with tunable. And Dombi bounding merry dance. Big wolf was not aware that the sound of the flute heard by group of shepherd dogs immediately following the direction of the sound flute wolf. Big wolf how surprised when he saw a group of shepherd even now it would be fine dining of the shepheard dogs. Quickly shepherd dogs that chase big wolf before while the big wolf sprinted humming, “what a fool Iam, i should just go ahead and eat that the little lamb.”
Now Dombi has been re-assembled with the mother and his entourage. He felt at ease and comfortable next to his mother.
Conclusion. Sleep Called Dombi need to be an example of her grace nature controlling the mind of a wolf who will eat, she state calm and thinks cleary to be free from the catch of a wolf. However, the negative side of the sleep is to ignore the words of his mother to go home. Because the sleep left by his mother and other entourage so that he met with the wolf. The message that can be taken form this story is When we are in trouble, we can rely on our intellect to overcome them. Let's keep sharpening our minds by Diligently learning to be increasingly “Sharp” and always reliable.
PUISI BHASA MADHURA
Apoy Sekam
Karya: Lisa Rahmawati Sufyan
Ekempet ateh ngontalla sekam
Benni keng tako’ namong keng ngejjel sake’
Ngolpa gharamowan parjhanjiyan
Bi-lebbi se ta’ andi’ todus entar mole
Parlo apah rah?
Abbe iyeh, jhejel pajellas amaksod ateh
Sengko’ la posang dhaddhina baramma
Terro ateh ngontalla sekam, namong eampet reh!
Tanggha’ tape’ jha opae, sampe kadung ateh masenneng
Parjhanjiyan ella ongghu dhadhi sa songayan
Sampe nyellem, sampe mang-mang, pekkeran anang-ronang
Kakeh maposang, sengko’ epakapalang
Sengkok reh! Sengkok! Corak caceng epobuwi abu tomang
Tajjhuwan tade keng ateh teppa’ e paposang
Parjhanjiyan laep ekaoca’ ateh se la mare esong-sang
Odi’na balijjha’ ma posang!
Veteran,6:11 AM
Mar-Samar Mowa
Karya: Lisa Rahmawati Sufyan
Cellep angen aghelluser ajaga’en mata
Ta-marenta dhuli mole tako’ kaloppa’an bada se ta’ etolong
Coma tako’ elang mun abit edhina aghi, obus ekala’ oreng
Ta’ ende’ adente’ kadeng ende’ esambih oreng
“Kerrong.” Agerenta’ ateh
Poroh se la abit atambeh alobeng
Oca’ se la lambe’ bisana gik asamar e pekkeran
Rassana lakar maelang tape keng ghi’ bede ondem e mata
Terro jha’ agharama mowana
Tade’ parbhandingannah kakeh so se mar-samar mowa, roh!
Ta’ abit badana sakejja mangibeh barna se malebur
Tape ongghuna bisa katemmo meske coma sakejje’
CERPEN
Gara-gara Seblak Mercon
Karya: Lisa Rahmawati Sufyan
Satu mangkok seblak Komplit dengan kuah pedas sudah melayang di perutku dengan begitu sempurna, pedasnya yang nikmat dengan perpaduan rasa asin dan daun jeruk mampu memanaskan suasana pagiku. Seragam putih telihat basah karena keringat semakin membanjiri pakaianku.
“Sudah jam 06:50 kamu harus berangkat. Ibu gak mau dipanggil ke Sekolah kamu cuma gara-gara anak ibu ini gak disiplin,” tegur Ibu saat melihatku masih duduk bersantai di meja dapur dengan raut wajah yang memerah karena kepedesan.
“Iya, bentar lagi. Aku pasti berangkat kok, ini masih kepedesan," jawabku memelas.
“Minum air terus langsung berangakat sekolah. Jangan ngebantah lagi!” ucap Ibu dengan sedikit meninggikan nada bicaranya.
“Ya ampun, iya Bu iya." Aku setengah berdiri sebelum segelas air putih meluncur di Tenggorokanku.
Perut yang masih memanas mengganggu kegiatanku pagi ini belum lagi omelan ibu yang mendorong langkahku semakin cepat untuk mengeluarkan sepeda motorku dari Garasi, dengan kecepatan penuh menjadikanku seperti iron girl, namun usahaku tidak berhasil untuk tiba di Sekolah tepat waktu. Gerbang Sekolah sudah ditutup dengan penjagaan ketat oleh guru BP. Pemandangan ini selalu aku lihat akhir-akhir ini, semoga saja mereka masih berbaik hati tidak mencatat keterlambatanku masuk sekolah hari ini.
“Aduh Shika lagi Shika lagi, bosen tiap pagi jam 07:00 liat muka kamu ini," sapa Pak Hamzah, salah satu guru BP di sekolahku. Ia terkenal santai dan tidak telalu killer dari Guru BP lainnya, ya bisa dibilang bisa diajak bercanda. Tapi aku tidak tau perkataannya pagi ini sebagai candaan apa ucapan kebenciannya karena melihat wajahku.
“ Ehe, anu Pak maaf saya telat," Jawabku cengengesan.
SELENGKAPNYA DI BUKU ANTOLOGI CERPEN "Remember Our Times" Karya Cerpen Lisa Rahmawati Sufyan (Gara-gara Seblak Mercon)
PEMESAN BISA MENGHUBUNGI MEDIA SOSIAL INSTAGRAM @Guepediapenerbitan
NOVELET
Perantaun Jember
Karya: Lisa Rahmawati Sufyan
Perjuangan akan segera di mulai , asap dan polusi menyambutku di cuaca yang begitu panas, letak matahari terasa nyata berada di atas kepala, seorang manusia malas sepertiku yang di hidupnya selalu berlindung di bawah naungan Atap dengan penuh ketenangan berjalan di sepanjang jalan menjauhi Terminal. Kaki terasa sangat panas dengan sengatan aspal, sial bagiku tidak menggunakan sepatu dan hanya menggunakan alas kaki berupa sandal. Suara klakson berbunyi secara bergantian memaksa kendaraan lain untuk segera bergerak saat lampu hijau menyala, sepertinya orang-orang tidak kuat akan hadirnya panas matahari yang begitu mengganggu aktifitas mereka.
Aku berjalan menuju Asrama Kampus, suasana baru tanpa ada seorangpun teman yang aku kenal, berada di keramaian namun terasa berjalan seorang diri. Koper dan tas gendong berukuran besar dan isinya yang lumayan banyak membuatku kewalahan membawanya, letak kamarku berada di lantai 2 dan tentunya aku harus menaiki tangga, rasa lapar dan haus harus segera diatasi. Bila tidak, aku khawatir tubuh yang lemah ini akan jatuh dan orang-orang disekitarku akan kerepotan. Keadaan Asrama sangat sepi hanya ada suara di balik kamar, aku berjalan berlalu melewati setiap kamar, terlihat di salah satu kamar seorang perempuan dewasa dengan tatapan nyata didepan laptop, sepertinya ia kakak tingkat yang sedang menyelesaikan skripsi. Kedua jarinya menari lepas di atas keyboard hitam. Karna suara dari Koperku, kepalanya menoleh kebelakang dan mengetahuiku lewat hanya tersenyum sebagai tanda menyapa.
<i>SELENGKAPNYA DI BUKU ANTOLOGI NOVELET "Untaian Kata 1000 Makna" Karya Lisa Rahmawati Sufyan, Novelet (Perantaun Jember)
PEMESAN BISA MENGHUBUNGI MUZAYYANAH SA'DIYAH 083853461168
Lost Lamb
That morning Dombi And her mother was busy rating grass, because it was afternoon, the mother of Dombi took home, but ignored by Dombi. He remained eager to eat the grass. Dombi still fun chewing grass, a few moments later he realized that his mother and hordes of other goats was no more. Now he realized that he was alone, when the sun was sinking, and the wolves usually appeared when it was already evening. With fear, a little Dombi dan with all his Strength as he continued to call his mother.
“Mom ... Don't leave Dombi Alone. ” He shouted.
Suddenly, in the middle of the road Dombi was blocked by a big wolf.
“Hey little lamb, where you want to run?” Askes the wolf.
Dombi seemed looked very frightened, He immediately seek immediate sense.
“Oh good lord Wolf, i'm just a poor little lamb, if you want to way me please, but please sing me a song with your flute, because i want to dance before you eat,” said Dombi Shaking.
Big wolf was immediately complied Dombi, and beban to play the flute with tunable. And Dombi bounding merry dance. Big wolf was not aware that the sound of the flute heard by group of shepherd dogs immediately following the direction of the sound flute wolf. Big wolf how surprised when he saw a group of shepherd even now it would be fine dining of the shepheard dogs. Quickly shepherd dogs that chase big wolf before while the big wolf sprinted humming, “what a fool Iam, i should just go ahead and eat that the little lamb.”
Now Dombi has been re-assembled with the mother and his entourage. He felt at ease and comfortable next to his mother.
Conclusion. Sleep Called Dombi need to be an example of her grace nature controlling the mind of a wolf who will eat, she state calm and thinks cleary to be free from the catch of a wolf. However, the negative side of the sleep is to ignore the words of his mother to go home. Because the sleep left by his mother and other entourage so that he met with the wolf. The message that can be taken form this story is When we are in trouble, we can rely on our intellect to overcome them. Let's keep sharpening our minds by Diligently learning to be increasingly “Sharp” and always reliable.
PUISI BHASA MADHURA
Apoy Sekam
Karya: Lisa Rahmawati Sufyan
Ekempet ateh ngontalla sekam
Benni keng tako’ namong keng ngejjel sake’
Ngolpa gharamowan parjhanjiyan
Bi-lebbi se ta’ andi’ todus entar mole
Parlo apah rah?
Abbe iyeh, jhejel pajellas amaksod ateh
Sengko’ la posang dhaddhina baramma
Terro ateh ngontalla sekam, namong eampet reh!
Tanggha’ tape’ jha opae, sampe kadung ateh masenneng
Parjhanjiyan ella ongghu dhadhi sa songayan
Sampe nyellem, sampe mang-mang, pekkeran anang-ronang
Kakeh maposang, sengko’ epakapalang
Sengkok reh! Sengkok! Corak caceng epobuwi abu tomang
Tajjhuwan tade keng ateh teppa’ e paposang
Parjhanjiyan laep ekaoca’ ateh se la mare esong-sang
Odi’na balijjha’ ma posang!
Veteran,6:11 AM
Mar-Samar Mowa
Karya: Lisa Rahmawati Sufyan
Cellep angen aghelluser ajaga’en mata
Ta-marenta dhuli mole tako’ kaloppa’an bada se ta’ etolong
Coma tako’ elang mun abit edhina aghi, obus ekala’ oreng
Ta’ ende’ adente’ kadeng ende’ esambih oreng
“Kerrong.” Agerenta’ ateh
Poroh se la abit atambeh alobeng
Oca’ se la lambe’ bisana gik asamar e pekkeran
Rassana lakar maelang tape keng ghi’ bede ondem e mata
Terro jha’ agharama mowana
Tade’ parbhandingannah kakeh so se mar-samar mowa, roh!
Ta’ abit badana sakejja mangibeh barna se malebur
Tape ongghuna bisa katemmo meske coma sakejje’
CERPEN
Gara-gara Seblak Mercon
Karya: Lisa Rahmawati Sufyan
Satu mangkok seblak Komplit dengan kuah pedas sudah melayang di perutku dengan begitu sempurna, pedasnya yang nikmat dengan perpaduan rasa asin dan daun jeruk mampu memanaskan suasana pagiku. Seragam putih telihat basah karena keringat semakin membanjiri pakaianku.
“Sudah jam 06:50 kamu harus berangkat. Ibu gak mau dipanggil ke Sekolah kamu cuma gara-gara anak ibu ini gak disiplin,” tegur Ibu saat melihatku masih duduk bersantai di meja dapur dengan raut wajah yang memerah karena kepedesan.
“Iya, bentar lagi. Aku pasti berangkat kok, ini masih kepedesan," jawabku memelas.
“Minum air terus langsung berangakat sekolah. Jangan ngebantah lagi!” ucap Ibu dengan sedikit meninggikan nada bicaranya.
“Ya ampun, iya Bu iya." Aku setengah berdiri sebelum segelas air putih meluncur di Tenggorokanku.
Perut yang masih memanas mengganggu kegiatanku pagi ini belum lagi omelan ibu yang mendorong langkahku semakin cepat untuk mengeluarkan sepeda motorku dari Garasi, dengan kecepatan penuh menjadikanku seperti iron girl, namun usahaku tidak berhasil untuk tiba di Sekolah tepat waktu. Gerbang Sekolah sudah ditutup dengan penjagaan ketat oleh guru BP. Pemandangan ini selalu aku lihat akhir-akhir ini, semoga saja mereka masih berbaik hati tidak mencatat keterlambatanku masuk sekolah hari ini.
“Aduh Shika lagi Shika lagi, bosen tiap pagi jam 07:00 liat muka kamu ini," sapa Pak Hamzah, salah satu guru BP di sekolahku. Ia terkenal santai dan tidak telalu killer dari Guru BP lainnya, ya bisa dibilang bisa diajak bercanda. Tapi aku tidak tau perkataannya pagi ini sebagai candaan apa ucapan kebenciannya karena melihat wajahku.
“ Ehe, anu Pak maaf saya telat," Jawabku cengengesan.
SELENGKAPNYA DI BUKU ANTOLOGI CERPEN "Remember Our Times" Karya Cerpen Lisa Rahmawati Sufyan (Gara-gara Seblak Mercon)
PEMESAN BISA MENGHUBUNGI MEDIA SOSIAL INSTAGRAM @Guepediapenerbitan
NOVELET
Perantaun Jember
Karya: Lisa Rahmawati Sufyan
Perjuangan akan segera di mulai , asap dan polusi menyambutku di cuaca yang begitu panas, letak matahari terasa nyata berada di atas kepala, seorang manusia malas sepertiku yang di hidupnya selalu berlindung di bawah naungan Atap dengan penuh ketenangan berjalan di sepanjang jalan menjauhi Terminal. Kaki terasa sangat panas dengan sengatan aspal, sial bagiku tidak menggunakan sepatu dan hanya menggunakan alas kaki berupa sandal. Suara klakson berbunyi secara bergantian memaksa kendaraan lain untuk segera bergerak saat lampu hijau menyala, sepertinya orang-orang tidak kuat akan hadirnya panas matahari yang begitu mengganggu aktifitas mereka.
Aku berjalan menuju Asrama Kampus, suasana baru tanpa ada seorangpun teman yang aku kenal, berada di keramaian namun terasa berjalan seorang diri. Koper dan tas gendong berukuran besar dan isinya yang lumayan banyak membuatku kewalahan membawanya, letak kamarku berada di lantai 2 dan tentunya aku harus menaiki tangga, rasa lapar dan haus harus segera diatasi. Bila tidak, aku khawatir tubuh yang lemah ini akan jatuh dan orang-orang disekitarku akan kerepotan. Keadaan Asrama sangat sepi hanya ada suara di balik kamar, aku berjalan berlalu melewati setiap kamar, terlihat di salah satu kamar seorang perempuan dewasa dengan tatapan nyata didepan laptop, sepertinya ia kakak tingkat yang sedang menyelesaikan skripsi. Kedua jarinya menari lepas di atas keyboard hitam. Karna suara dari Koperku, kepalanya menoleh kebelakang dan mengetahuiku lewat hanya tersenyum sebagai tanda menyapa.
<i>SELENGKAPNYA DI BUKU ANTOLOGI NOVELET "Untaian Kata 1000 Makna" Karya Lisa Rahmawati Sufyan, Novelet (Perantaun Jember)
PEMESAN BISA MENGHUBUNGI MUZAYYANAH SA'DIYAH 083853461168
Komentar
Posting Komentar