PSIKOLINGUISTIK ANAK

TEORI PERKEMBANGAN BAHASA ANAK

Secara Harfiah, Psikologi berarti ilmu jiwa" yang dalam hal ini kajiannya adalah tentang jiwa, sedangkan linguistik adalah ilmu bahasa atau ilmu yang mengambil bahasa sebagai objek kajiannya. Jadi, psikolinguistik adalah ilmu yang mempelajari kejiwaan seseorang baik itu prilaku yang terlihat atau pun tidak. Kesimpulannya, dalam psikolinguistik menguraikan proses dalam psikologi yang berlangsung jika seseorang mengucapkan kalimta-kalimat yang didengarnya pada waktu berkomunikasi, dan bagaimana kemampuan berbahasa itu diperoleh manusia. (Slobin, 1974; Meller, 1964; Slama Cazahu, 1973).

Menurut KBBI secara umum perkembangan adalah proses berkembangnya sesuatu Sedangkan Bahasa adalah system lambang atau arbitrer yang digunakan oleh suatu masyrakat untuk bekerja sama, beinteraksi dan mengindtefikasi, percakapan (perkataan) yang baik, tingkah laku yang baik, sopan santun. ( baik budi bahasanya).

Lalu menurut KBBI Perkembangan adalah perubahan jasmani dan rohani menuju kesempurnaan. Dalam pandangan sebagian ahli terdapat perbedaan antara pertumbuhan dan perkembangan. Pertumbuhan mengarah kepada perubahan secara kuantitatif (misalnya: perubahan panjang, lebar, besar, luas yang bersifat dahir) pertumbuhan akan terhenti pada saat manusia mencapai kedewasaan sedangkan perkembangan lebih bersifat kualitatif yakni mengarah pada fungsi organ-organ jasmaniyah. Perkembangan akan berlangsung hingga manusia mati. (SUMBER: Muchlis Solichin, Psikologi Belajar Dengan Pendekatan Baru Telaah Komprehensif Paradigma, Prinsip, Model Belajar dan Pembelajaran, (Surabaya: Salsabila Putra Pratama, 2017), hlm 16.)

Bahasa adalah system bunyi dan urutan bunyi vocal yang tersturktur yang digunakan atau dapat digunakan dalam komunikasi interpersonal oleh sekelompok manusia dan secara lengkap digunakan untuk mengungkapkan sesuatu peristiwa dan proses yang terjadi di sekitar manusia (Carol, 1961:10) Pandangan Behaviorisme. Bahasa adalah system bunyi yang diperoleh manusia untuk mengkomunikasikan makna. (SUMBER: Moh. Hafid Effendy, Kasak-Kusuk Bahasa Indonesia, (Surabaya: Salsabila Putra Pratama, 2017), hlm 81-82.)

Perkembangan Bahasa Bahasa adalah sarana komunikasi dengan orang lain. Usia sekolah dasar merupakan masa berkembang pesatnya kemampuan mengenal dan menguasai vocabulary atau perbendaharaan kata. (SUMBER:Sestiono Mindiharto, Psikologi Kesehatan, (Psikosain, 2019), hlm 21-22.)

Perkembangan bahasa anak pra-sekolah, dapat diklasifikasikan ke dalam dua tahap (sebagai kelanjutan dari dua tahap sebelumnya). Masa Ketiga (2,0-2,6 tahun) bercirikan sebagai berikut: anak sudah mulai bisa menyusun kalimat tunggal yang sempurna, snak sudah mampu memahami memahami tetang perbandingan, anak banyak menanyakan tempat dan nama; apa, dimana, darimana, dsb, anak sudah mulai menggunakan kata-kata berawalan dan berakhiran . Tahap Keempat (2,6-6,0 tahun) bercirikan sebagai berikut: Anak sudah menggunakan kalimat majemuk beserta anak kalimatnya, tingkat berpikir anak sudah lebih maju, anak banyak bertanya tentang waktu, sebab akibat melalui pertanyaan kapan, mengapa, bagaimana, dan sebagainya.

Perkembangan bahasa merupakan kemampuan khas manusia yang paling kompleks dan mengagumkan. Kemampuan berbahasa anak tidak diperoleh secara tiba-tiba atau sekaligus tetapi dengan bertahap. Kemajuan berbahasa mereka berjalan seiring dengan perkembangan fisik, mental, intelektual, dan sosialnya. Perkembangan bahasa anak ditandai oleh keseimbangan dinamis atau suatu rangkaian kesatuan yang bergerak dari bunyi-bunyi atau ucapan yang sederhana menuju tuturan yang lebih kompleks

Pandangan Behaviorisme

Kaum behaviorisme ini menekankan bahwa proses pemerolehan bahasa pertama dikendalikan dari luar diri si anak, yaitu oleh rangsangan yang diberikan melalui lingkungan. Istilah bahasa bagi kaum behaviorisme dianggap kurang tepat karena istilah bahasa itu menyiratkan suatu wujud, sesuatu yang dimiliki atau digunakan dan bukan sesuatu yang dilakukan. Padahal bahasa itu merupakan salah satu perilaku, di antara perilaku-perilaku manusia lainnya. Oleh kerena itu, mereka lebih suka menggunakan istilah perilaku verbal (verbal behavior), agar tampak lebih mirip dengan perilaku lain yang harus dipelajari.

Menurut kaum behavioris kemampuan berbicara dan memahami bahasa oleh anak diperoleh melalui rangsangan dari lingkungan. Anak dianggap sebagai penerima pasif dari tekanan lingkungannya, tidak memiliki peranan yang aktif di dalam proses perkembangan perilaku verbalnya. Kaum behavioris ini bukan hanya tidak mengakui peranan aktif si anak dalam proses pemerolehan bahasa, malah juga tidak mengakui kematangan si anak itu. proses perkembangan bahasa terutama ditentukan oleh lamanya latihan yang diberikan oleh lingkungannya.

Menurut Skinner (1969) kaidah gramatikal atau kaidah bahasa adalah perilaku verbal yang memungkinkan seseorang dapat menjawab atau mengatakan sesuatu. Namun, kalau kemudian anak dapat berbicara, bukanlah karena “penguasaan kaidah (rule-governed)” sebab anak tidak dapat mengungkapkan kaidah bahasa, melainkan dibentuk secara langsung oleh factor di luar dirinya.


Kaum behavioris tidak mengakui pandangan bahwa anak menguasai kaidah bahasa dan memiliki kemampuan untuk mengabstrakkan ciri-ciri penting dari bahasa di lingkungannya. Mereka berpendapat rangsangan (stimulus) dari lingkungan tertentu memperkuat kemampuan berbahasa anak. Perkembangan bahasa mereka pandang sebagai suatu kemajuan dari pengungkapan verbal yang berlaku secara acak sampai ke kemampuan yang sebenarnya untuk berkomunikasi melalui prinsip-prinsip pertalian S-R (stimulus-respon) dan proses peniruan-peniruan.

Behaviorisme merupakan salah satu pendekatan untuk memahami perilaku individu. Behaviorisme memandang individu hanya dari sisi fenomena jasmani , dan mengabaikan aspek-aspek mental. Dengan kata lain, behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat dan perasaan individu dalam suatu mengajar. Peristiwa belajar semata-mata melatih reflex-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai individu. Teori kau behavioris lebih dikenal dengan nama teori belajar, karena seluruh perilaku manusia adalah belajar. Belajar artinya perubahan perilaku organism sebagai pengaruh lingkungan. Behaviorisme tidak mau mempersoalkan apakah manusia baik atau jelek, rasional, atau emosional; behaviorisme hanya ingin mengetahui bagaiamana perilakunya dikendalikan oleh factor-faktor lingkungan. Dalam arti teori belajar lebih menekankan pada tingkah laku manusia. Memandang individu sebagai makhluk reaktif yang memberi respon terhadap lingkungan. Pengalaman dan pemeriharaan akan membentuk perilaku mereka. Dari hal inilah timbullah konsep “manusia mesin” (Homo Mechanicus). Ciri dari teori ini adalah mengutamakan unsur-unsur dan bagian kecil, bersifat mekanistik, menekankan peranan lingkungan, memetingkan mekanisme hasil belajar, memetingkan peranan kemampuan dari hasil belajar yang diperoleh adalah munculnya perilaku yang diinginkan.


Pandangan Kongnitivisme

Jean Piaget (1954) menyatakan bahwa bahasa itu bukanlah suatu ciri alamiah yang terpisah, melainkan salah satu di antara beberapa kemampuan yang berasal dari kemampuan kognitif. Bahasa distuktruri oleh nalar, maka perkembangan bahasa harus berlandaskan pada perubahan yang lebih mendasar dan lebih umum di dalam kognisi. Jadi, urutan-urutan perkembangan kognitif menentukan urutan perkembangan bahasa. Chomsky pernah menyanggah konsep kognitivisme dari Piaget ini. Beliau menyatakan bahwa mekanisme umum dari perkembangan kognitif tidak dapat menjelaskan struktur bahasa yang komples, abstrak, dan khas itu. begitu juga lingkungan berbahasa tidak dapat menjelaskan struktur yang muncul di dalam bahasa anak. Oleh karena itu, menurut Chomsky, bahasa (struktur atau kaidahnya) haruslah diperoleh secara alamiah. Sebaiknya, Piaget menengaskan bahwa struktur yang kompleks dari bahasa bukanlah sesuatu yang diberikan oleh alam, dan bukan pula sesuatu yang dipelajari dari lingkungan. Sturuktur bahasa itu timbul sebagai akibat interaksi yang terus-menerus antara tingkat fungsi kognitf si anak dengan lingkungan kebahasaannya (juga lingkungan lain). Struktur itu timbul secara tak terelakkan dari serangkaian interaksi. Oleh karena timbulnya tak terelakkan, maka struktur itu tidak perlu tersediakan secara alamiah.

Jika Chomsky berpendapat bahwa lingkungan tidak besar pengaruhnya pada proses pematangan bahasa, maka Piaget berpendapat bahwa lingkungan juga tidak besar pengaruhnya terhadap perkembangan intelektual anak. Perubahan atau perkembangan intelektual anak sangat tergantung pada keterlibatan anak secara aktif dengan lingkungan.

Bagaimana hubungan antara perkembangan kognitif dan perkembangan bahasa pada anak dapat kita lihat dari keterangan Piaget mengenai tahap paling awal dari perkembangan intelektual anak. Tahap perkembangan dari lahir sampai usia 18 tahun oleh Piaget disebut sebagai tahap “sensori motor”. Pada tahap ini dianggap belum ada bahasa karena anak belum menggunakan lambang-lambang untuk menunjuk pada benda-benda di sekitarnya. Anak pada tahap ini memahami dunia melalui alat indranya (sensory) dan gerak kegiatan yang dilakukan (motor). Anak hanya mengenal benda jika benda itu dialaminya secara langsung. Begitu benda hilang dari pengliatannya maka benda itu dianggap tidak ada lagi. Menjelang akhir usia satu tahun berulah anak itu dapat menangkap bahwa objek itu tetap ada (permanen), meskipun sedang tidak dilihatnya. Sedang dilihat atau tidak benda itu tetap ada sebagai benda, yang memiliki sifat permanen.

Sesudah mengerti kepermanenan objek anak mulai menggunakan symbol untuk mempersentasikan objek yang tidak lagi hadir di hadapannya. Symbol ini kemudian menjadi kata-kata awal yang diucapkan si anak. Jadi, menurut pandangan kognitivisme perkembangan kognitif harus tercapai lebih dahulu dna baru sesudah itu pengetahuan itu dapat keluar dalam bentuk keterampilan berbahasa. Perkembangan bahasa, baik menurut pandangan nativisme, behaviorisme dan kognitivisme, tidak lepas atau berkaitan dengan perkembanga-perkembangan yang dialami anak. Oleh karena itu, sebelum membicarakan perkembangan bahasa itu, secara singkat dikemukakan dulu mengenai perkembangan motoric, perkembangan sosial, dan perkembangan kognitif anak.

Kognitif adalah salah satu ranah perkembangan jiwa seseorang. Secara umum kognitif diartikan potensi intelektual yang terdiri dari tahapan: pengetahuan (knowledege), pemahaman (comprehention), penerapan (aplication), analisa (analysis), sintesa (sinthesis), evaluasi (evaluation). Kognitif berarti persoalan yang menyangkut kemampuan untuk mengembangkan kemampuan rasional (akal).

Teori kognitif lebih menenkankan bagaimana proses atau upaya untuk mengoptimalkan kemampuan aspek rasional yang dimiliki oleh orang lain. Belajar kognitif berbeda dengan teori behavioristic, yang lebih menekankan pada aspek kemampuan perilaku yang diwujudkan dengan cara kemampuan merespon terhadap stimulus yang dating kepada dirinya.

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar kata kognitif. Dari aspek tenaga pendidik misalnya. Seorang guru diharuskan memiliki kompetensi bidang kognitif. Artinya, seseorang guru harus memiliki kemampuan intelektual seperti penguasaan materi pelajaran, pengetahuan mengenai cara belajar mengajar, pengetahuan cara menilai siswa dan sebagaianya. Jean Piaget (1896-1980), pakar psikologi dari Swiss, mengatakan bahwa anak dapat membangun secara aktif dunia kognitif mereka sendiri. Dalam pandangan Piaget, terdapat dua proses yang mendasari perkembangan individu yaitu pengorganisasian dan penyesuaian (adaptasi).

Kecendrungan organisasi dapat dilukiskan sebagai kecendrungan bawaan setiap organisme untuk mengintegrasi proses-proses sendiri menjadi system-system yang koheren. Adaptasi dapat dilukiskan sebagai kecendruangan bawaan setiap organisme untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan keadaan social.

Piaget yakin bahwa kita menyesuaikan diri dalam dua cara yaitu asimilasi dan akomodasi. Asimilasi terjadi ketika individu menggabungkan informasi baru ke dalam pengetahuan mereka yang sudah ada. Sedangkan, akomodasi adalah terjadi ketika individu menyesuaikan diri dengan informasi baru.

Teori kognitif pula berpendapat bahwa pembelajaran ialah suatu proses pendalaman yang berlaku dalam akal pikiran, dan tidak dapat diperhatikan secara langsung dengan tingkah laku. Ahli-ahli psikologi kognitif seperti Bruner dan Piaget menjelaskan kejian kepada berbagai jenis pembelajaran dalam proses penyelesaikan masalah dan akal berdasarkan berbagai peringkat umur dan kecerdasan pelajar. Teori-teori pembelajaran mereka adalah bertumpu kepada cara pembelajaran seperti pemikiran cerdik, urgensi penyelesaian masalah, penemuan dan pengkategorian. Menurut teori ini, manusia memiliki struktur kognitif, dan semasa proses pembelajaran, otak, akan menyusun segala pernyataan di dalam ingatan. Lewin menyatakan bahwa tingkah laku merupakan hasil dari interaksi antar kekuatan. Belajar merupakan hasil dari perubahan dalam struktur kognitif. Perubahan dua struktur koginitif itu adalah hasil daru dua macam kekuatan yaitu struktur medan kognitif dan kebutuhan motivasi internal individu. Oleh karenanya, penting untuk memberikan motivasi berupa reward.


Pandangan Nativisme Pandangan Nativisme berpendapat bahwa selama proses pemerolehan bahasa pertama, kanak-kanak (manusia) sedikit demi sedikit membuka kemampuan lingualnya secara genetis telah diprogramkan. Pandangan ini tidak menganggap lingkungan punya pengaruh dalam pemerolehan bahasa, melainkan menganggap bahwa bahasa merupakan pemberian biologis, sejalan dengan yang disebut “hipotesis pemberian alam”.

Kaum nativis berpendapat bahwa bahasa itu terlalu kompleks dana rumit, sehingga mustahil dapat dipelajari dalam waktu singkat melalui metode seperti “peniruan” (imitation). Jadi, pasti ada beberapa aspek penting mengenai system bahasa yang sudah ada pada manusia secara alamiah. Chomsky (1965, 1975) melihat bahasa itu bukan hanya kompleks, tetapi juga penuh dengan kesalahan dan penyimpangan kaidah pada pengucapan atau pelaksanaan bahasa (performance). Manusia tidaklah mungkin belajar bahasa pertama dari orang lain, selama belajar mereka menggunakan prinsip-prinsip yang membimbingnya menyusun tata bahasa. Chomsky juga mengatakan bahwa bahasa hanya dapat dikuasai oleh manusia, binatang tidak mungkin dapat menguasai bahasa, pendapat ini didasarkan pada asumsi, yaitu: 1. Perilaku berbahasa adalah sesuatu yang diturunkan (genetic) pola perkembangan bahasa adalah sama pada semua macam bahasa dan budaya (merupakan sesuatu yang universal) dan lingkungan hanya memiliki peranan kecil di dalam proses pematangan bahasa.

2. Bahasa dapat dikuasai dalam waktu singkat, anak berusia empat tahun sudah dapat berbicara mirip dengan orang dewasa.

3. Lingkungan bahasa pada anak tidak dapat menyediakan data secukupnya bagi penguasaan tata bahasa yang rumit dari orang dewasa.

Menurutnya lagi, anak dilahirkan dengan dibekali “alat pemerolehan bahasa” (language acquisticion device LAD). Alat ini yang merupakan pemberian biologis yang sudah diprogramkan untuk merinci butir-butir yang mungkin dari suatu tata bahasa, LAD dianggap sebagai bagian fisiologis dari otak yang khusus untuk memperoses bahasa, dan tidak punya kaitan dengan kemampuan kognitif lainnya.

SUMBER : Abdul Chaer, Psikolinguistik Kajian Teoretik (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2003), hlm 221-228


Pilihan Teori Perkembangan Bahasa Anak Serta Penjelasannya Menurut saya dari ketiga teori perkembangan bahasa anak yang sudah dijelaskan tersebut, saya lebih setuju kepada teori perkembangan bahasa anak kognitivisme karena menurut saya memang seharusnya perkembangan kognitif harus tercapai terlebih dan baru sesudah itu pengetahuan itu dapat keluar dalam bentuk keterampilan berbahasa. Intinya, urutan-urutan perkembangan kognitif menentukan urutan perkembangan bahasa pada anak. Hal ini diperkuat dengan bagaimana proses atau upaya untuk mengoptimalkan kemampuan aspek rasional yang dimiliki, artinya pada bahasa anak tidak hanya dari gen saja namun juga pada lingkungannya mereka. Berbanding terbalik dengan teori nativisme yang mengatakan saat proses pemerolehan bahasa pertama pada anak perlahan akan membuka kemampuan lingualnya secara genetis yang sudah diprogramkan sedangkan pada lingkungan tidak ada pengaruhnya, bukankah lingkungan juga memiliki pengaruh dalam pemerolehan bahasa? Tidak semerta hanya bahasa pemberian biologis yang sudah ada (pemberian alam). Sedangkan pada teori behaviorisme istilah bahasa bagi kaum behaviorisme dianggap kurang tepat karena istilah bahasa itu menyiratkan suatu wujud, sesuatu yang dimiliki atau digunakan dan bukan sesuatu yang dilakukan. Padahal bahasa itu merupakan salah satu perilaku, di antara perilaku-perilaku manusia lainnya. Teori ini juga berpendapat jika kemampuan berbicara dan memahami bahasa oleh anak diperoleh melalui rangsangan dari lingkungannya dan anak dianggap pasif dari tekanan lingkungannya serta tidak memiliki peranan aktif dalam proses perkembangan perilaku verbalnya. Menurut saya, perkembangan bahasa anak bukan hanya dipengaruhi oleh salah satu factor saja (lingkungan ataupun gennya) melainkan aspek lingkungan dan aspek gen ini sama-sama berperan dalam perkembangan pemerolehan bahasa pada anak. Hal ini serupa dengan teori perkembangan bahasa pada teori kognitivisme yang berarti persoalan yang menyangkut kemampuan untuk mengembangkan kemampuan rasional (akal).



Ciri-ciri siswa yang mengalami kesulitan belajar ditinjau dari sisi ini adalah sebagai berikut:
1. Lamban mengamati dan mereaksi peristiwa yang terjadi dilingkungannya. Siswa yang mengalami lamban dalam mengamati dan mereaksikan peristiwa yang terjadi terutama di dalam lingkungan belajarnya umumnya hal yang seperti ini karena siswa tersebut memiliki perkembangan akademik yang rendah di bawah standar yang diharapkan, mereka cenderung memiliki rentang perhatian yang rendah dan bertingkah bingung. Lingkungan yang bersih juga berpengaruh karena dalam hal ini, seorang siswa tidak akan merasa nyaman dalam belajarnya jika keadaan lingkungannya kotor Namun sering kali sifat lamban ini merupakan adanya ketidaksanggupan siswa dalam menguasai pengetahuan yang tentunya akan mempengaruhi sikapnya menjadi tidak cocok dengan lingkungan sekelilingnya. Tentunya kepedulian orang terdekat dalam menjadi daya dorong untuk siswa tersebut sangatlah dibutuhkan, orang terdekat harus peka terutama pada orang tuanya, contoh sederhananya seperti ini, sepulang sekolah tanyakan kepada mereka (anak) tentang apa yang menyenangkan di sekolah. selalu memantau perkembangan anaknya merupakan bentuk kepedulian orang tua kepada anaknya itulah factor luar yang akan mengubah karakter siswa dalam masalah lamban mengamati peristiwa di lingkungannya, kemudian dari segi intrinsic anak. Nutrisi dan gizi juga berpengaruh kepada perkembangan otaknya maka untuk hal ini lebih menjaga pola makan anak tersebut, mulailah mengkonsumsi makanan-makanan yang bergizi. Siswa yang mengalami kesulitan belajara pada umumnya berkaitan erat dengan masalah-masalah emosional,agresif,takut,malu-malu dan nakal. Kesulitan belajar menunjukkan ketidakmampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya yang mengakibatkan kegagalan belajar di sekolah. Jika kegagalan itu bertambah banyak maka akan mengakibatkan kelesuan konsentrasi dalam belajar.

2. Kurang berminat untuk melakukan penyelidikan terhadap hal-hal yang baru dilingkungannya. Tema sub topic dalam pembicaraan diskusi menjadi anak kurang berminat dalam diskusi tersebut maka akan timbul rasa malas dan ogah untuk mempelajari hal tersebut apalagi melakukan penyelidikan. Menurut saya, kurang berminatnya seseorang melakukan penyelidikan dipengaruhi oleh factor kepercayaan dirinya, karena jika seseorang tidak memiliki kepercayaan diri yang baik. Maka, hal ini bisa menjadi hambatan dalam penguasaan pelajaran dalam hal kecilnya tidak berminat dalam pelajaran tersebut. Contoh: Jika seseorang tidak percaya diri dalam belajar mata pelajaran,seperti: bahasa inggris. Maka ia akan enggan dan malas mempraktekkan bahasa inggris tersebut dan melakukan penyelidikan praktek hitung. Jika hal ini terjadi maka perlu adanya kesadaran bahwa “jika saya tidak mempraktekkannya maka selamanya saya tidak akan mengusai bahasa inggris tersebut.”


3. Tidak banyak mengajukan pertanyaan, apalagi pertanyaan-pertanyan yang mengandung unsur problematik yang menuntut pemecahan masalah, dan sangat sulit mengikuti pelajaran yang disajikan. Dengan adanya ketidakingintahuan anak terhadap pelajaran sehingga menyebabkan dirinya kurang mengajukan suatu pertanyaan bahkan yang mengandung unsur problematic untuk pemecahan masalah baru.

4. Kurang memperlihatkan perhatian terhadap apa dan bagaimana tugas dapat diselesaikan dengan baik. Pelajaran yang membosankan akan mengakibatkan seseorang kurang memperhatikan terhadap apa yang di depannya contohnya tugas sekolah, maka dalam hal ini perlu adanya tanggung jawab orang tua dan guru dalam membantu menyenangkan pembelajaran tersebut. Contohnya pada pembelajaran untuk anak usia dini akan lebih efektif dan lebih menyenangkan jika disampaikan melalui objeknya langsung,manfaatnya untuk memberikan motivasi dan merangsang anak untuk bereksplorasi dan bereksprimen. Misalnya anak kurang memperhatikan pelajaran matematika dalam mata pelajaran tersebut seorang guru memberi tugas matematika. Maka setidaknya guru juga ikut mengontrol proses pengerjaan tugas dari anak didiknya, misalnya dengan menggunakan balok sebagai media pembelajaran untuk anak dalam materi bangun ruang agar anak bisa bereksperimen.

5. Banyak menggunakan ingatan (hafalan) daripada logika (reasoning). Perlu kita ketahui bersama bahwa semua orang punya porsi kelebihannya masing-masing cara dalam belajar. ada yang pintar menggunakan hafalannya ada yang pintar menggunakan pikirannya. Dalam hal ini porsi tersebut harus seimbang antara hafalan dan pemikiran dan jangan terlalu memaksakan hal tersebut karena “sesuatu yang dipaksakan akan mendapatkan hasil yang tidak maksimal”.

6. Tidak mampu menggunakan cara-cara tertentu dalam mempelajari ilmu pengetahuan. Cara-cara memperlajari ilmu pengetahuan bermacam-macam yaitu:dengan membuat suasana belajar nyaman,merangkum pokok pembelajaran,belajar bersama,belajar dengan praktik,belajar rutin dan mengerti bukan menghafal. Jika seseorang tidak mampu menggunakan cara dalam mempelajari pelajaran dengan praktik maka bisa menggunakan belajar bersama jika hal tersebut masih tidak mampu dilakukannya maka bisa dengan belajar rutin tentunya melalui dampingan orang tua/guru.

7. Kurang lancar berbicara, tidak jelas, dan gagap. Ketidakmampuan dalam menyampaikan maksud hal ini tergolong wajar dan dapat hilang dengan sendirinya. Namun,jika dibiarkan kondisi ini tentu akan memburuk serta berdampak pada hilangnya kepercayaam diri dan mengganggu hubungan social. Pengobatannya bisa bermacam-macam disesuiakan dengan hasil pemeriksaan dokter,namun penderita dapat mengendalikan gejala yang ada dengan terapi bicara/praktek bicara hal ini saya rasa bisa mengurangi kurang lancar berbicara tersebut karena bisa mengatur pernafasan saat berbicara dan memahami kapan gagap akan muncul.

8. Sangat bergantung kepada gurunya dan orang tuanya, terutama untuk membuktikan kebenaran pengetahuan yang sedang dipelajarinya. Hal ini umum dilakukan oleh siswa karena kurang adanya kepercayaam diri terhadap jawaban soal yang sudah dikerjakan, adanya kurang percaya tentang benarnya jawaban tersebut sehingga ia bertanya kepada orang yang dianggap pintar olehnya (contohnya teman) bahkan jawaban yang sudah dikerjakan ia ubah dengan jawaban temannya itu, hal ini terjadi pada saya saat duduk dibangku sekolah terutama pada mata pelajaran matematika saat ujian tulis. Saat masa pembagian kertas ujian jawaban teman saya tersebut jawaban yang salah dan jawaban saya adalah jawaban yang benar. (setelah bertanya kepada Bu Sri Wahyuni selaku guru pengajar Matematika tersebut).

9. Sulit memahami konsep-konsep abstrak. Menurut sumber dari internet, Konsep ini datang dari ilmuwan yang hanya dapat dijelaskan secara teoritis sehingga dinamakan konsep teoritis/konsep abstrak. Konsep ini cukup sulit dilakukan karena tidak ada contoh nyatanya pada lingkungan peserta didik,misalkan pada mata pelajaran Fisika. Contohnya seperti pemahaman anak kepada mata pelajaran fisika memerlukan proses berfikir tingkat tinggi yang menggunakan alat praktikum yang hanya mampu menunjukkaan gelaja makro,lalu dipresentasikan dengan analisis matematis tanpa dapat mengetahui makna fisis dari gejala yang abstrak tersebut, hal ini sebagai penyebab kesulitan peserta didik mempelajari konsep abstrak fisika.

10, Mengalami kesulitan membuat generalisasi pengetahuan secara terurai, bahkan tidak mampu menarik kesimpulan. Solusi utamanya adalah rajin membaca agar bisa membuat inti dari bacaan yang dibacanya karena tidak mungkin seseorang membuat suatu kesimpulan dari apa yang dilihatnya dan dibacanya.

11.Memiliki daya ingat yang lemah atau mudah lupa. Mulailah untuk mencatat hal-hal yang ingin diingat atau bisa juga mepraktekkan suatu pelajaran ke orang lain karena Sesuatu yang diulang-ulang maka akan menjadi pengigat dan cenderung tidak lupa.

12. Mengalami kesulitan dalam menuliskan pengetahuannya sekalipun dengan menggunakan kata dan kalimat sederhana. Setiap individu punya kelebihan masing-masing ada yang pintar dalam mengarang ada juga yang pintar dalam berhitung, semuanya punya porsi masing-masing namun hal tersebut harus seimbang di dalam diri orang antara menulis dan berhitung. Jika mengalami salah satu kesulitan dalam hal tersebut (menulis pengetahuan) bisa dengan membiasakan diri untuk membaca dan menulis karena itu akan melatih otak untuk berfikir. Menulis dan membaca itu mempunyai ikatan yang sangat kuat. Karena konsepnya seperti ini: “ Jika ingin belajar menulis,jangan targetkan punya berapa tulisan namun targetkan berapa buku yang habis dibacanya” (Nisaul Kamilah C. Fouder HBO) 13. Lambat mengerjakan tugas-tugas atau latihan-latihan yang diberikan, baik di sekolah maupun di rumah. Perhatian guru di sekolah dan orang tua di rumah sangat berpengaruh. Dalam hal ini harus peka apa yang terjadi pada anak. Bisa dengan memberi semangat dan dukungan pada anak atau bisa juga memberikan royalty ringan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MATERI KEPENULISAN

FONOLOGI

SEMANTIK