MEDIA PEMBELAJARAN

PENGERTIAN MEDIA PEMBELAJARAN

Pengertian Media Pembelajaran Secara sederhana, media dapat diartikan sebagai alat yang berfungsi sebagai sarana untuk menyampaikan pesan dari sumber informasi kepada penerima informasi.

Pembelajaran sebagai suatu bentuk komunikasi membutuhkan media untuk membantu menyampaikan pesan-pesan belajar kepada peserta didik.

Penggunaan media dalam pembelajaran juga dapat mencegah agar tidak terjadi kekeliruan persepsi dalam memahami pesan. Lebih jauh, penggunaan media dalam pembelajaran dapat meningkatkan atensi peserta didik karena media dapat membawa nuansa yang menarik dalam pengalaman belajar peserta didik.

Secara bahasa, media berasal dari bahasa latin, yaitu medius/medium yang secara harfiah berarti tengah, perantara, atau pengantar.

Dari pemaknaan secara harfiah tersebut, kata media dalam pembelajaran dapat diartikan sebagai perantara atau pengantar dari sumber pesan kepada penerima pesan.

Menurut Hamijaya dalam Ahmad Rohani, “media adalah semua bentuk perantara yang dipakai orang penyebar ide, sehingga ide atau gagasan itu sampai pada penerima.

Dalam pengertian ini media dipandang sebagai medium yang digunakan untuk membawa suatu pesan, di mana medium ini merupakan jalan atau alat yang menghubungkan antara komunikator dengan komunikan.

Pendapat lain dikemukakan oleh NEA (National, Education Association) dalam Rohani sebagai berikut: “media adalah segala benda yang dimanipulasikan, dilihat, didengar, dibaca, atau dibicarakan beserta instrumen yang digunakan untuk kegiatan tersebut”. pengertian ini memaknai media sebagai sesuatu yang dirancang, didesain oleh guru untuk memudahkan penyampaian informasi kepada siswa Dari penjelasan-penjelasan yang dikemukakan di atas dapat dipahami bahwa pada prinsipnya media merupakan sarana yang didesain secara khusus untuk kepentingan belajar.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa pengertian media adalah segala sarana belajar yang tersedia yang dapat membantu menyalurkan pesan dari sumber informasi kepada penerima informasi.

Sejalan dengan pengertian di atas, Miarso mengartikan pembelajaran sebagai suatu “intervensi dengan tujuan terjadinya belajar”.

Intervensi yang dimaksud adalah segala perlakuan yang diberikan oleh guru, baik itu materi maupun metode sebagai upaya dalam mensiasati kegiatan pembelajaran. Dalam konteks ini, pembelajaran dimaknai sebagai interaksi antara siswa yang belajar dengan guru yang memberikan informasi belajar.

Dengan demikian, maka pengertian pembelajaran tidak hanya berhubungan dengan kegiatan siswa dalam mendapatkan pengalaman belajar, tetapi juga terdapat kegiatan guru dalam menginformasikan serta memberi pengalaman belajar kepada siswa.

Berdasarkan pengertian media dan juga pembelajaran seperti telah diuraikan di atas, dapat disintesiskan bahwa media pembelajaran adalah media yang digunakan dalam proses instruksional (pembelajaran), untuk mempermudah pencapaian tujuan instruksional yang lebih efektif dan memiliki sifat yang mendidik.

Secara implisit, pemanfaatan media pembelajaran harus dilakukan dengan kreatif dan berdasarkan prinsip-prinsip belajar yang berorientasi pada proses dan siswa. Artinya pemanfaatan media pembelajaran untuk meningkatkan pembentukan pengalaman-pengalaman siswa, sehingga pada diri mereka terjadi perubahan-perubahan yang relatif permanen baik aspek kognitifnya, afektif, maupun psikomotoriknya.

Asnawi mengemukakan beberapa pertimbangan yang perlu diperhatikan oleh seorang guru dalam memilih media yang akan digunakan dalam pembelajaran di kelas, antara lain:

Media yang dipilih hendaknya selaras dan menunjang tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Dalam penetapan media harus jelas dan operasional, spesifik, dan benar-benar tergambar dalam bentuk perilaku (behaviorisme).

Aspek materi menjadi pertimbangan yang dianggap penting dalam memilih media. Sesuai atau tidaknya antara materi dengan media yang digunakan akan berdampak pada hasil pembelajaran siswa.

Kondisi audien (siswa) dari segi subjek belajar menjadi perhatian yang serius bagi guru dalam memilih media yang sesuai dengan kondisi anak.

Faktor umur, intelegensi, latar belakang pendidikan, budaya, dan lingkungan anak menjadi titik perhatian dan pertimbangan dalam memilih media pengajaran.

Ketersediaan media di sekolah atau memungkinkan bagi guru mendesain sendiri media yang akan digunakan merupakan hal yang perlu menjadi pertimbangan seorang guru.

Media yang dipilih seharusnya audien (siswa) secara tepat dan berhasil guna, dengan kata lain tujuan yang ditetapkan dapat dicapai secara optimal.

HAKIKAT MEDIA PEMBELAJARAN

`Kegiatan belajar mengajar di kelas merupakan suatu dunia komunikasi tersendiri di mana guru dan siswa bertukar pikiran untuk mengembangkan ide dan pengertian. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin mendorong upaya-upaya pembaharuan dalam pemanfaatan hasil-hasil teknologi dalam proses pembelajaran.

Pembelajaran merupakan suatu sistem atau proses membelajarkan subjek didik/pembelajar yang direncanakan atau didesain, dilaksanakan, dan dievaluasi secara sistematis agar subjek didik/pembelajar dapat mencapai tujuan-tujuan pembelajaran secara efektif dan efisien.

Gagne (1970) menyatakan bahwa media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar.

Bigas (1970) berpendapat bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar. Buku, film, kaset, film bingkai adalah contoh-contohnya. Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran merupakan proses komunikasi.

Sedangkan proses komunikasi terdiri dari guru, bahan pembelajaran, media pembelajaran, siswa, dan tujuan pembelajaran. Kata media berasal dari bahasa latin medium yang secara harfiah berarti „tengah‟, „perantara‟, atau „pengantar‟. Atau dengan kata lain media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim pesan kepada penerima pesan.

Menurut Gearlach & Ely, mengatakan bahwa media apabila dipahami secara garis besar adalah manusia, materi atau kejadian yang membangun suatu kondisi yang membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan atau sikap.

Dalam pengertian ini, guru, buku teks, dan lingkungan sekolah merupakan media. Secara lebih khusus, pengertian media dalam proses belajar mengajar cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis, fotografis, atau elektronis untuk menangkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual atau verbal. Berdasarkan pendapat di atas, media dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang dapat membawa informasi dan pengetahuan dalam interaksi yang berlangsung antara pendidik dengan peserta didik.

Hamalik (1986) mengemukakan bahwa pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa.

media sangat diperlukan dalam proses belajar mengajar. Penggunaan media akan dapat membantu siswa sebagai subjek belajar, guru sebagai fasilitator, dan proses belajar mengajar itu sendiri. Media yang telah dikenal dewasa ini tidak hanya terdiri dari dua jenis, tetapi sudah lebih dari itu. Klasifikasinya bisa dilihat dari jenisnya dan daya liputnya.

Proses pembelajaran pada dasarnya juga merupakan proses komunikasi,sehingga media yang digunakan dalam pembelajaran disebut media pembelajaran.batasan mengenai pengertian media dalam pembelajaran atau media yang digunakan dalam proses pembelajaran,diantaranya sebagai berikut:

menurut association of education communication technology (AECT) memberikan definisi bahwa media merupakan segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk proses penyampaian pesan (jenuszewski and molenda,2008).

menurut national education association(NEA), media merupakan sebuah perangkat dapat dimanipulasikan,didengar,dilihat,dibaca beserta instrumen yang digunakan dengan baik dalam kegiatan belajar mengajar,serta dapat memengaruhi efektivitas program instruksional.

menurut gagne and briggs (1974)media pembelajaran merupakan alat yang digunakan untuk menyampaikan isi materi pembelajaran yang dapat merangsang siswa dalam mengikuti proses pembelajaran.

menurut heinich (1996) media merupakan alat saluran komunikasi .heinich mencontohkan media ,film, televisi,diagram, bahan tercetak (printed material), komputer, dan instruktor.

sementara menurut daryanto (2010), media pembelajaran adalah segala sesuatu (baik manusia,benda atau lingkungan sekitar) yang dapat digunakan untuk menyampaikan atau menyalurkan pesan dalam pembelajaran sehingga dapat merangsang perhatian,minat,pikiran , dan perasaan siswa pada kegiatan untuk mencapai tujuan.

Dari berbagai pendapat mengenai batasan media pembelajaran , maka dapat ditarik kesimpulan bahwa media pembelajaran merupakan sebagai segala sesuatu yang dapat menyampaikan pesan melalui berbagai saluran, dapat merangsang pikiran,perasaan dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar untuk menambah informasi baru pada diri siswa sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik.

Tujuan Penggunaan Media Pembelajaran Penggunaan media atau alat-alat modern di dalam perkuliahan bukan bermaksud mengganti cara mengajar yang baik, melainkan untuk melengkapi dan membantu para dosen dalam menyampaikan materi atau informasi.

Dengan menggunakan media diharapkan terjadi interaksi antara dosen dengan mahasiswa secara maksimal sehingga dapat mencapai hasil belajar yang sesuai dengan tujuan. Sebenarnya tidak ada ketentuan kapan suatu media harus digunakan, tetapi sangat disarankan bagi para dosen untuk memilih dan menggunakan media dengan tepat. 

Secara umum tujuan penggunaan media pembelajaran adalah membantu guru dalam menyampaikan pesan-pesan atau materi pelajaran kepada siswanya, agar pesan lebih mudah dimengerti, lebih menarik, dan lebih menyenangkan kepada siswa.

Sedangkan secara khusus media pembelajaran digunakan dengan tujuan: Memberikan pengalaman belajar yang berbeda dan bervariasi sehingga merangsang minat siswa untuk belajar.

Menumbuhkan sikap dan keterampilan tertentu dalam bidang teknologi Menciptakan situasi belajar yang tidak mudah dilupakan oleh siswa Untuk mewujudkan situasi belajar yang efektif Untuk memberikan motivasi belajar kepada siswa 

Perkembangan Media Pembelajaran dari Masa ke Masa Pada awal sejarah pendidikan, guru merupakan satu-satunya sumber untuk memperoleh pelajaran. Dalam perkembangan selanjutnya, sumber belajar itu kemudian bertambah dengan adanya buku.

Pada masa itu kita mengenal tokoh bernama Johan Amos Comenius yang tercatat sebagai orang pertama yang menulis buku bergambar yang ditujukan untuk anak sekolah.

Buku tersebut berjudul Orbis Sensualium Pictus (Dunia Tergambar) yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1657. Penulisan buku itu dilandasi oleh suatu konsep dasar bahwa tak ada sesuatu dalam akal pikiran manusia, tanpa terlebih dahulu melalui penginderaan.

Dari sinilah para pendidik mulai menyadari perlunya sarana belajar yang dapat memberikan rangsangan dan pengalaman belajar secara menyeluruh bagi siswa melalui semua indera, terutama indera pandang – dengar.

Kalau kita amati lebih cermat lagi, pada mulanya media pembelajaran hanyalah dianggap sebagai alat untuk membantu guru dalam kegiatan mengajar (Teaching Aids).

Alat bantu mengajar yang mula-mula digunakan adalah alat bantu visual seperti gambar, model, grafis atau benda nyata lain. Alat-alat bantu itu dimaksudkan untuk memberikan pengalaman lebih konkrit, memotivasi serta mempertinggi daya serap atau retensi belajar dan daya ingat siswa dalam belajar.

Namun karena terlalu memusatkan perhatian pada alat Bantu visual kurang memperhatikan aspek disain, pengembangan pembelajaran (instruction) produksi dan evaluasinya.

Jadi, dengan masuknya pengaruh teknologi audio pada sekitar abad ke-20, alat visual untuk mengkongkritkan ajaran ini dilengkapi dengan alat audio sehingga kita kenal dengan audio visual atau audio visual aids (AVA).

Bermacam peralatan dapat digunakan oleh guru untuk menyampaikan pesan ajaran kepada siswa melalui penglihatan dan pendengaran untuk menghindari verbalisme yang masih mengkin terjadi kalau hanya digunakan alat bantu visual semata.

Sekitar pertengahan abad 20 usaha pemanfaatan alat visual mulai dilengkapi dengan peralatan audio, maka lahirlah peralatan audio visual pembelajaran.

Usaha-usaha untuk membentuk pembelajaran abstrak menjadi lebih konkrit terus dilakukan. Dalam usaha itu, Edgar Dale membuat klasifikasi 12 tingkatan pengalaman belajar dari yang paling kongkrit sampai yang paling abstrak. Klasifikasi tersebut kemudian dikenal dengan nama ”Kerucut Penglaman” (Cone of Experience).

Kerucut pengalaman ini dianut secara luas untuk menentukan alat bantu atau media apa yang sesuai agar siswa memperoleh pengalaman belajar secara mudah. Kerucut pengalaman yang dikemukakan oleh Edgar Dale itu memberikan gambaran bahwa pengalaman belajar yang diperoleh siswa dapat melalui proses perbuatan atau mengalami sendiri apa yang dipelajari, proses mengamati, dan mendengarkan melalui media tertentu dan proses mendengarkan melalui bahasa.

Semakin konkret siswa mempelajari bahan pengajaran, contohnya melalui pengalaman langsung, maka semakin banyak pengalaman yang diperolehnya. Sebaliknya semakin abstrak siswa memperoleh pengalaman, contohnya hanya mengandalkan bahasa verbal, maka semakin sedikit pengalaman yang akan diperoleh siswa. Edgar Dale memandang bahwa nilai media pembelajaran diklasifikasikan berdasarkan nilai pengalaman.

Menurutnya, pengalaman itu mempunyai dua belas (12) tingkatan. Tingkatan yang paling tinggi adalah pengalaman yang paling konkret.

Sedangkan yang paling rendah adalah yang paling abstrak, diantaranya: Direct Purposeful Experiences : Pengalaman yang diperoleh dari kontak langsung dengan lingkungan, obyek, binatang, manusia, dan sebagainya, dengan cara perbuatan langsung Contrived Experiences : Pengalaman yang diperoleh dari kontak melalui model, benda tiruan, atau simulasi. Dramatized Experiences : Pengalaman yang diperoleh melalui permainan, sandiwara boneka, permainan peran, drama soial.

Demonstration : Pengalaman yang diperoleh dari pertunjukan Study Trips : Pengalaman yang diperoleh melalui karya wisata

Exhibition : Pengalaman yang diperoleh melalui pameran

Educational Television : Pengalaman yang diperoleh melalui televisi pendidikan Motion Pictures : Pengalaman yang diperoleh melalui gambar, film hidup, bioskop

Still Pictures : Pengalaman yang diperoleh melalui gambar mati, slide, fotografi

Radio and Recording : Pengalaman yang diperoleh melalui siaran radio atau rekaman suara

Visual Symbol : Pengalaman yang diperoleh melalui simbol yang dapat dilihat seperti grafik, bagan, diagram

Verbal Symbol : Pengalaman yang diperoleh melalui penuturan kata-kata. Ketika itu, para pendidik sangat terpikat dengan kerucut pengalaman itu, sehingga pendapat Dale tersebut banyak dianut dalam pemilihan jenis media yang paling sesuai untuk memberikan pengalaman belajar tertentu pada siswa. Pada akhir tahun 1950, teori komunikasi mulai mempengaruhi penggunaan alat audio visual.

Dalam pandangan teori komunikasi, alat audio visual berfungsi sebagai alat penyalur pesan dari sumber pesan kepada penerima pesan. Begitupun dalam dunia pendidikan, alat audio visual bukan hanya dipandang sebagai alat bantu guru saja, melainkan juga berfungsi sebagai penyalur pesan belajar.

Sayangnya, waktu itu faktor siswa, yang merupakan komponen utama dalam pembelajaran, belum mendapat perhatian khusus.

Baru pada tahun 1960-an, para ahli mulai memperhatikan siswa sebagai komponen utama dalam pembelajaran. Pada saat itu teori Behaviorisme BF. Skinner mulai mempengaruhi penggunaan media dalam kegiatan pembelajaran. Teori ini telah mendorong diciptakannya media yang dapat mengubah tingkah laku siswa sebagai hasil proses pembelajaran.

Produk media pembelajaran yang terkenal sebagai hasil teori ini adalah diciptakannya teaching machine (mesin pengajaran) dan Programmed Instruction (pembelajaran terprogram).

Pada tahun 1965-70, pendekatan sistem (system approach) mulai menampakkan pengaruhnya dalam dunia pendidikan dan pengajaran. Pendekatan sistem ini mendorong digunakannya media sebagai bagian intregal dalam proses pembelajaran.

Media, yang tidak lagi hanya dipandang sebagai alat bantu guru, melainkan telah diberi wewenang untuk membawa pesan belajar, hendaklah merupakan bagian integral dalam proses pembelajaran. Media, yang tidak lagi hanya dipandang sebagai alat bantu guru, melainkan telah diberi wewenang untuk membawa pesan belajar, hendaklah merupakan bagian integral dari kegiatan belajar mengajar.

Pada akhir tahun 1950 teori komunikasi mulai mempengaruhi penggunaan alat bantu audio visual, yang berguna sebagai penyalur pesan atau informasi belajar.

Pada tahun 1960-1965 orang-orang mulai memperhatikan siswa sebagai komponen yang penting dalam proses belajar mengajar. Pada saat itu teori tingkah-laku (behaviorism theory) dari B.F Skinner mulai mempengaruhi penggunaan media dalam pembelajaran.

Dalam teorinya, mendidik adalah mengubah tingkah-laku siswa. Teori ini membantu dan mendorong diciptakannya media yang dapat mengubah tingkah-laku siswa sebagai hasil proses pembelajaran.

Pada tahun 1965-1970 , pendekatan system (system approach) mulai menampakkan pengaruhnya dalam kegiatan pendidikan dan kegiatan pembelajaran. Pendekatan system ini mendorong digunakannya media sebagai bagian integral dalam proses pembelajaran.

Setiap program pembelajaran harus direncanakan secara sistematis dengan memusatkan perhatian pada siswa. Ada dua ciri pendekatan sistem pengajaran, yaitu sebagai berikut:

Pendekatan sistem pengajaran mengarah ke proses belajar mengajar. Proses belajar-mengajat adalah sesuatu penataan yang memungkinkan guru dan siswa berinteraksi satu sama lain.

Penggunaan metode khusus untk mendesain sistem pengajaran yang terdiri atas prosedur sistemik perencanaan, perancangan, pelaksanaan, dan penilaian keseluruhan proses belajar-mengajar.

Program pembelajaran direncanakan berdasarkan kebutuhan dan karakteristik siswa diarahkan kepada perubahan tingkah laku siswa sesuai dengan tujuan yang dicapai. Pada dasarnya pendidik dan ahli visual menyambut baik perubahan ini.

Sehingga untuk mencapai tujuan pembelajaran tersebut, mulai dipakai berbagai format media. Dari pengalaman mereka, guru mulai belajar bahwa cara belajar siswa itu berbeda-beda, sebagian ada yang lebih cepat belajar melalui media visual, sebagian audio, media cetak, dan sebagainya. Sehingga dari sinilah lahir konsep media pembelajaran.

LANDASAN PRINSIP MEDIA PEMBELAJARAN

Penggunaan media pembelajaran dalam proses pembelajaran akan memberikan konstribusi terhadap efektifitas pencapaian tujuan pembelajaran. Berbagai hasil penilitian pada intinya menyatakan bahwa berbagai macam media pembelajaran memberikan bantuan sangat besar kepada peserta didik dalam proses pembelajaran.


Penggunaan media pembelajaran dalam proses pembelajaran perlu mempertimbangkan beberapa prinsip yaitu : Tidak ada satu media pun yang paling baik untuk semua tujuan suatu media hanya cocok untuk pembelajaran tertentu. Tetapi mungkin tidak cocok untuk pembelajaran yang lain.

Media adalah bagian integral dari proses pembelajaran. Hal ini berarti bahwa media bukan hanya sekedar alat bantu mengajar guru saja, tetapi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses pembelajaran. Penetapan suatu media haruslah sesuai dengan komponen lain dalam perencanaan pembelajaran. Tanpa alat bantu mengajar mungkin pembelajaran tetap dapat berlangsung, tetapi tanpa media itu tidak akan terjadi. Media apapun yang hendak digunakan, sasaran akhirnya adalah untuk memudahkan belajar peserta didik. Kemudahan belajar peserta didik haruslah dijadikan acuan utama pemilihan dan penggunaan suatu media.

Penggunaan berbagai media dalam satu kegiatan pembelajaran bukan hanya sekedar selingan atau pengisi waktu atau hiburan, melainkan mempunyai tujuan yang menyatu dalam pembelajaran yang berlangsung.
Pemilihan media hendaknya objektif, yaitu didasarkan pada tujuan pembelajaran, tidak didasarkan pada kesenangan pribadi tenaga pengajar. Penggunaan beberapa media sekaligus akan dapat membingungkan peserta didik. Penggunaan multi media tidak berarti menggunakan media yang banyak sekaligus, tetapi media tertentu dipilih untuk tujuan tertentu dan media yang lain untuk tujuan yang lain pula. Kebaikan dan kekurangan media tidak tergantung pada kekonkritan dan keabstrakannya saja. Media yang konkrit wujudnya, mungkin sukar untuk dipahami karena rumitnya, tetapi media yang abstrak dapat pula memberikan pengertian yang tepat.



MANFAAT MEDIA PEMBELAJARAN


Manfaat media pembelajaran dapat dirasakan tidak hanya bagi pelajar yang menikmati materi menggunakan berbagai media tetai juga oleh pengajar yang dapat mengurangi beban dalam menjelaskan dan dapat menyampaikan materi secara lebih detail kepada para pelajar.

Ada beberapa manfaat penggunaan media pembelajaran menurut (Nurseto,2011). Dapat menumbuhkkan motivasi belajar para pelajar karena materi yang disampaikan dapat lebih menarik perhatian mereka. Penguasaaan materi menjadi lebih baik karena memungkinkan bahan pengajaran disampaikan dengan berbagai media yang dapat diakses secara berulang-ulang oleh pelajar.

Metode pembelajaran menjadi lebih bervariasi dan tidak hanya menggunakan kata-kata verbal saja. Pelajar menjadi lebih aktif, karena dengan media pembelajaran yang baik dapat membuat pelajar menjadi lebih ikut serta dan berinteraksi dengan media pembelajaran yang digunakan.

Sudjana dan Rivai (1992) mengemukakan beberaa manfaat media dalam proses belajar sisswa yaitu: Dapat menumbuhkan motivasi belajar sswa karena pengajaran akan lebih menari perhatian mereka Makna bahan pengajaran akan menjadi lebih jelas sehingga dapat dipahami siswa dan memungkinkan terjadinya penguasaan serta pencaapian tujuan pengajaran;

Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata didasarkan atas komunikasi verbal melalui kata-kata; dan Tidak hanya mendengarkan tetapi juga mengamati, mendemonstrasikan, melakukan langsung, dan memerankan.

Berdasarkan atas beberapa manfaat media pembelajaran yang dikemukakan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa penggunaan media dalam kegiatan belajar mengajar memilki pengaruh yang besar terhadap alat-alat indera. Terhadap pemahaman isi pelajaran, secara nalar dapat dikemukakan bahwa dengan penggunaan media akan lebih baik pada siswa. Pebelajar yang belajar lewat mendengarkan saja akan berbeda tingkat pemahaman dan lamanya “ingatan” bertahan, dibandingkan dengan pebelajar yang belajar lewat melihat sekaligus medengarkan dan melihat. Media pembelajaran juga membangkitkan dan membawa pelajar ke dalam suasana rasa senang dan gembira, di mana ada keterlibatan emosional dan mental.


Menurut Sadiman (2009: 17-18) mengidentifikasi ada empat manfaat ppenggunaan media pembelajaran. Pertama, memperjelas yang disampaikan. Kedua, menatasi keterbatasan kemampuan indera. Ketiga, mengatasi peserta didik yan meingkatkan motivasi, interaksi dan merangsang keempat, memfasilitasi keberagaman latar belakang peserta didik.


Dari banyak nya pendapat para ahli manfaat penggunaan media pembelajara, diharapakan dapat memotivasi setiap guru unuk dapat mengunakannya dalam pembelajaran. Penggunaan media pembelajaran diharapkan menjadi salah satu solusi yang dapat mengatasi kendala yang dihadapi dalam pembelajaran. Kemajuan teknologi saat ini sangat mempermudah guru dalam mendapatkan referensi tentang media pembelajaran.


jENIS-JENIS MEDIA PEMBELAJARAN


Menurut Heinich et. al. jenis-jenis media adalah sebagai berikut:


Media yang tak diproyeksikan Realia (benda nyata) dapat berupa potongan,contoh, dan pameran.

Model (benda 3 dimensi yang merupakan representasi/tiruan dari benda sesungguhnya)

Bahan grafis (graphic materials) yaitu gambar-gambar atau visual yang penampilannya tidak diproyeksikan (gambar, grafik, chart, poster, kartun) Display

Media yang diproyeksikan Media yang tergolong dalam kelompok ini adalah overhead transparency (OHT) dan slide suara

Media Audio Rekaman audio dapat digunakan untuk memberikan penjelasan, suara-suara binatang, suara resonansi bunyi pada tabung, suara sirine pada efek Doppler, dan nada. Rekaman dapat dilakukan dalam bentuk format kaset dan audio compact disc (audio CD)

Media Video Media video (audio visual) banyak digunakan sebagai alat pembelajaran, karena kemampuan video untuk memanipulasi waktu dan ruang. Proses yang cepat dapat diperlambat atau yang lambat dapat dipercepat sehingga memungkinkan untuk digunakan dalam rentang waktu belajar.

Jenis objek yang terlalu kecil dapat diperbesar dan yang terlalu besar dapat diperkecil sehingga memungkinkan untuk diamati di ruang kelas. Objek yang tidak ada di suatu daerah dan tidak ada di linkngan sekolah dapat dipelajari melalui media video.


Media berbasis komputer (computer based media) Potensi media komputer memungkinkan terjadinya interaksi langsung antara siswa dengan materi pembelajaran; proses belajar dapat berlansung secara individual sesuai dengan kemampuan siswa, mampu menampilkan unsur audio visual.

Dengan komputer dapat diaplikasikan dalam merancang media pembelajaran yang berupa: tutorial, praktek dan latihan (practice and drill), permainan (games), simulasi (simulation), penemuan (discovery) dan pemecahan masalah (problem solving).

Dalam perkembangan dewasa ini, media berbasis computer tidak hanya dapat digunakan secara stand alone tetapi dapat dimanfaatkan dalam suatu jaringan, baik jaringan lokal (intranet) maupun jaringan yang luas (internet)


Multimedia kit Multimedia kit terdiri atas beberapa jenis media yang digunakan untuk pembelajaran suatu topik tertentu yang dilengkapi dengan panduan belajar dan embar kerja modular. Pengertian tersebut berbeda dengan pengertian komputer multimedia yang mengitegrasikan bebagai bentuk materi baik teks, gambar, grafik, suara, movie dalam komputer.

Sedangkan Yudhi Munadhi menjelaskan beberapa pengelompokan media tersebut terbagi dalam beberapa kelompok berikut:

Klasifikasi Media Berdasarkan Perkembangan Teknologi Seels & Glasgow membagi media berdasarkan perkembangan teknologi dalam dua klasifikasi, yaitu:

Media Tradisional Visual diam yang diproyeksikan Visual yang tak diproyeksikan Audio Penyajian multimedia Visual dinamis yang diproyeksikan : Cetak Permainan Realita

Media Teknologi Mutakhir Media berbasis telekomunikasi : telekonferensi, kuliah jarak jauh. Media berbasis mikroprosesor : komputer, interaktif, compact disk Klasifikasi Media Berdasarkan Karakterisktik Stimulus yang Ditimbulkan.

Klasifikasi ini dikemukakan oleh Briggs dimana dikatakan bahwa pengelompokan media lebih mengarah pada karakteristik siswa, tugas instruksional, bahan dan transmisinya. Briggs mengklasifikasikan 13 macam media yang digunakan dalam proses pembelajaran, yaitu: objek suara langsung media cetak papan tulis media transparansi film bingkai film rangkai film gerak televisi gambar model rekaman audio pelajaran terprogram

Selain itu ada media lain yang kita kenal, antara lain: diorama, pertunjukan wayang dan boneka. Beranekaragamnya media tersebut, dapat dilihat dari mulai yang sederhana sampai yang kompleks dan dari yang murah sampai yangtermahal.

Masing-masing media mempunyai karakteristik tertentu, baik dilihat dari keampuhannya, cara pembuatannya maupun cara penggunaannya. Setiap media mempunyai keampuhan dan kelemahannya masing-masing.



PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN

Media pembelajaran merupakan alat yang dapat membantu guru dalam proses belajar mengajar dan berfungi untuk membantu dalam menyampaikan pesan kepada siswa sehingga dapat mencapai tujuan pendidikan dan hasil belajar siswa menjadi lebih baik.



Dengan media pembelajaran maka kualitas belajar menjadi meningkat karena tidak hanya guru yang aktif memberikan materi kepada siswa tetapi siswa juga dapat aktif di dalam kelas dan terlibat dalam proses pembelajaran sehingga siswa lebih muudah mnerima materi yang disampaikan oleh guru.

Ada beberapa hal yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa dengan adanya media pembelajaran:

1) Proses belajar mengajar menjadi mudah dan menarik

Dengan adanya media pembelajaran, guru dapat menyampaikan materi pembelajaran menjadi menarik dan mudah dimengerti oleh siswa. Sehingga siswa dapat mengerti dan memahami pelajaran dengan mudah.

2) Efisiensi belajar siswa dapat meningkat

Siswa yang belajar dengan menggunakan media maka belajar menjadi lebih efisien karena sesuai dengan tujuan pembelajaran. Guru memberikan materi bisa lebih berurutan dengan memberikan materi yang lebih mudah terlebih dahulu.

3) Membantu konsentrasi belajar siswa

Media pembelajaran yang menarik dan sesuai dengan kebutuhan siswa maka dapat membantu konsentrasi belajar siswa di dalam kelas dalam menerima materi yang diberikan oleh guru. Siswa tidak merasa bosan berada di dalam kelas dalam menerima materi yang di berikan guru karena dengan menampilkan media pembelajaran maka siswa menjadi senang berada di dalam kelas untuk belajar dengan baik.

4) Meningkatkan motivasi belajar siswa Media pembelajaran dapat meningkatkan motivasi belajar siswa sehingga ketika guru menyampaikan materi di dalam kelas maka perhatian siswa terhadap pelajaran dapat meningkat. Guru dapat menampilkan media pembelajaran yang menarik perhatian siswa sebelum pembelajaran di mulai.

5) Memberikan pengalaman menyeluruh dalam belajar Dalam proses pembelajaran, siswa bukan hanya memahami hal absrak yang di sampaikan guru tetapi siswa juga harus memahami secara nyata dari materi tersebut. Guru menggunakan media pembelajaran untuk membantu siswa supaya mempunyai lebih mengerti materi secara keseluruhan. Sehingga guru daan siswa mempunyai pengalaman yang sama dalam belajar.

6) Siswa terlibat dalam proses pembelajaran

Supaya proses pembelajaran di dalam kelas berlangsung dengan baik, bukan hanya guru yang terlibat aktif di dalam kelas tetapi siswa juga aktif mengikuti dan terlibat dalam proses pembelajaran. Siswa bukan hanya sebagai objek tetapi menjadi subjek dalam kegiatan belajar. Maka siswa memiliki kesempatan melakukan kreativitas dan mengembangkan potensi yang dimiliki melalui aktivitas dalam proses pembelajaran.

EVALUASI MEDIA PEMBELAJARAN

Evaluasi adalah pengumpulan keterangan keterangan secara sistematis tentang pengaruh usaha kita untuk dianalisis agar dapat kita ketahui sampai dimanakah tujuan pelajaran yang telah dicapai.

Dengan demikian kita mengetahui kebaikan dan kekurangan usaha kita yang memperkaya pengalaman kita sebagai pengajar yang dapat kita gunakan untuk masa-masa mendatang dengan anggapan bahwa keberhasilan sekarang juga akan memberi hasil baik bagi murid-murid di kemudian hari

Evaluasi media pembelajaran adalah suatu proses untuk mengetahui apakah media yang digunakan dalam belajar mengajar itu telah mencapai tujuan atau tidak.

Evaluasi merupakan salah satu komponen penting dan tahap yang harus ditempuh oleh guru untuk mengetahui keefektifan pembelajaran.

Evaluasi merupakan kegiatan terencana untuk mengetahui keadaan suatu objek dengan menggunakan instrumen dan hasilnya dibandingkan dengan suatu tolak ukur untuk memperoleh suatu kesimpulan.

Menurut Abidin (2013) evaluasi adalah suatu proses atau kegiatan yang sistematis dan menentukan kualitas (nilai atau arti) dari pada sesuatu berdasarkan pertimbangan dan kriteria tertentu.

Media pengajaran menurut Akib (2002) diartikan sebagai segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan (message), merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemampuan siswa sehingga dapat mendorong proses belajar.

Berdasarkan pengertian diatas maka definisi dari evaluasi media pembelajaran itu sendiri menurut Asnawir & Usman (2002) yaitu dimaksudkan untuk mengetahui apakah media yang digunakan dalam proses belajar mengajar tersebut dapat mencapai tujuan.

Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa mengevaluasi penggunaan media berarti mengkonfrontir antara fungsi dan prinsip dengan hasil yang dicapai dalam pembelajaran titik karena pada dasarnya evaluasi tersebut untuk mengambil keputusan terhadap proses pembelajaran.

Untuk memahami evaluasi media pendidikan perlu dikaji dahulu makna evaluasi baik dari sisi bahasa maupun istilah. Ahmad Sabri (2005: 138) mengartikan evaluasi sebagai proses sistematis untuk menentukan nilai sesuatu (ketentuan, kegiatan, keputusan, unjuk kerja, proses, orang, objek dan yang lainnya) berdasarkan kriteria tertentu melalui penilaian. Untuk menentukan nilai sesuatu dengan cara membandingkan kepada kriteria, evaluator dapat langsung membandingkan dengan kriteria namun dapat melakukan pemukulan terhadap sesuatu yang dievaluasi kemudian baru membandingkan dengan kriteria.

Dalam konteks evaluasi media pembelajaran, evaluasi adalah proses pencarian informasi secara sistematis, objektif dan empiris untuk memberi nilai atau ketentuan terhadap media pembelajaran. Hasil evaluasi ini digunakan untuk mendesain ulang dan mengembangkan media berikutnya.

Ada tiga hal penting yang harus tercakup dalam proses evaluasi yakni: (a) menetapkan suatu nilai atau judgement, (b) adanya suatu kriteria, dan (c) adanya deskripsi program sebagai objek penilaian.

TUJUAN DARI EVALUASI PEMBELAJARAN

Evaluasi media pembelajaran mempunyai empat tujuan sebagaimana yang disebutkan dalam buku pedoman evaluasi media pendidikan dari Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (1988/1989) sebagai berikut:

1. Memberikan pedoman kepada instansi pemerintah dalam mengadakan media pendidikan yang bermutu.

2. Memberikan pedoman kepada pendidik dalam membuat media pendidikan yang bermutu.

3. Memberikan pedoman kepada produsen dalam memproduksi media pendidikan yang bermutu.

4. Melindungi sekolah dari penggunaan media pendidikan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan dari segi teknis kependidikan

Berikut berbagai tujuan evaluasi media pembelajaran menurut beberapa ahli.

Tujuan evaluasi media menurut Susilana & Riyana (2009) yaitu:
1. Memilih media pendidikan yang akan dipergunakan di kelas. Tidak semua media yang dibuat oleh guru dan yang telah tersedia di sekolah dapat digunakan dalam pembelajaran di kelas titik media pembelajaran yang dapat digunakan di kelas semestinya harus benar-benar media yang telah dievaluasi sebaik-baiknya sehingga media tersebut benar-benar layak untuk digunakan titik proses pemilihan media memerlukan pertimbangan yang matang sehingga media yang dipilih betul-betul efektif.

2. Untuk melihat prosedur atau mekanisme penggunaan suatu alat. Mekanisme penggunaan suatu media merupakan salah satu bagian penting dalam pengembangan media yang harus dievaluasi titik prinsipnya media pembelajaran yang dibuat harus mudah digunakan oleh pemakai atau istilah asingnya "easy of use" atau "user friendly". Tidak jarang ada media pada saat digunakan mengalami macet atau susah untuk dioperasikan sehingga hal ini menjadi hambatan dalam proses pembelajaran titik dalam hal ini evaluasi terhadap mekanisme atau prosedur penggunaan suatu media menjadi sangat penting.

3. Untuk memeriksa apakah tujuan penggunaan alat tersebut telah tercapai. Setiap media pembelajaran tentunya memiliki karakteristik dan manfaat yang berbeda antara media yang satu dengan yang lainnya terkait dengan pencapaian tujuan pembelajaran.

PRINSIP-PRINSIP EVALUASI MEDIA PEMBELAJARAN

Pelaksanaan penilaian atau evaluasi media pembelajaran perlu memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut:

1) Apakah media pembelajaran tersebut berperan untuk meningkatkan komunikasi yang efektif. Artinya media merupakan perantara dalam menyajikan pesan dari komunikator kepada komunikan. Oleh karena itu, dalam mengevaluasi media pembelajaran perlu dilihat apakah media pembelajaran tersebut mendorong terjadinya komunikasi yang aktif, efektif dan interaktif.

2) Kebenaran dan ketepatan konten, ketepatan dan kesesuaian dari aspek pembelajaran dan aspek media. Aspek yang paling utama adalah ketepatan atau kebenaran konten. Artinya sebagus dan semenarik apapun media pembelajaran itu dikemas, apabila ada kesalahan pada aspek materi, maka media pembelajaran tersebut harus diperbaiki atau bahkan tidak boleh digunakan.

3) Pertimbangan praktis, yaitu media pembelajaran yang ditetapkan untuk dimanfaatkan dalam kegiatan pembelajaran hendaknya memenuhi kriteria: kemudahan dipindahkan atau ditempatkan, kesesuaiannya dengan fasilitas yang ada di kelas, keamanan penggunaannya, daya tahan, serta kemudahan perbaikannya,

4) Faktor manusia, yaitu harus sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan peserta didik, dan ketersediaan tenaga khusus/fasilitator dalam pemanfaatannya.





Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

MATERI KEPENULISAN

FONOLOGI

SEMANTIK