KRITIK SASTRA CERPEN

KRITIK KARYA SASTRA ANTOLOGI CERITA PENDEK PADA BUKU MERAH PUTIH DENGAN PITA MERAH MENGGUNAKAN PENDEKATAN FEMINIS RADIKAL CERPEN "TENTANG GADIS DI KORAN ITU" KARYA NURWINDA APRIYANI


Cerpen : Tentang Gadis Di Koran Itu

Karya: Nurvinda Apriyani

SMAN 1 Pringsewu, Lampung


Pada pandangan feminisme radikal mendasarkan pada suatu tesis bahwa penindasan terhadap perempuan berakar pada ideology patriarkat sebagai tata nilai dan otoritas utama yang mengatur hubungan laki-laki dan perempuan secara umum sehingga menjadi akar penindasan perempuan. Cerita pendek Tentang Gadis di Koran Itu karya Nurwinda Apriyani mengisahkan tentang kehidupan ibunya yang bekerja sebagai PSK dan hal ini berdampak hasil pada janin yang sudah berada sedemikian lama di rahim, kelahiran tokoh “aku” tidak memberikan efek jera untuk berhenti melakukan pekerjaan hina itu yang hanya sampai saat usianya tidak lagi muda. Hari demi hari bahkan berganti tahun tokoh “aku” tidak mengetahui akan persoalan ibunya. Bahkan berkali-kali pula tetangganya mencemooh akan dirinya (tokoh aku) adalah anak haram.

Hingga sampai saatnya tiba, perlahan tokoh “aku” pun memahami akan yang terjadi pada Ibunya. Bahkan tokoh “aku” yang tak pernah merasakan dan mendambakan kehadiran seorang Ayah kini sudah mendapatkannya, sosok yang dianggapnya kekasih cukup membuatnya merasa memiliki semuanya yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya. Namun kehadiran pria itu justru memberikan nasib yang tak jauh berbeda dengan ibunya sendiri. Dalam kritik feminisme mendeskripsikan adanya penindasan terhadap perempuan yang terdapat dalam karya sastra, pada cerpen Tentang Gadis di Koran yang memfokuskan analisis serta penilaian pada penulis perempuan sebagai tokoh “aku” melalui sudut pandang pertama yang juga pada cerpen ini sekilas memakai sudut pandang ketiga untuk menggabarkan secara gamblang kondisi akhir perempuan dalam tokoh “aku” yaitu hubungan perempuan dengan laki-laki dan masyarakatnya.

Tentang Gadis di Koran dapat didefinisikan sebagai kisah dari latar belakang seorang gadis yang ada di surat kabar, yang dalam hal ini tokoh “aku” sebagai tokoh utama mengalami ketidakadilan dari laki-laki yang ia anggap adalah kekasihnya namun justru menodai tokoh “aku” dan bahkan tidak memberikan tanggung jawab atas apa yang sudah diperbuat. Adanya hubungan seks yang diperbuat memberikan dampak yang cukup besar. Peran dari latar belakang keluarga, pemahaman terhadap agama, lingkungan pergaulan serta adanya psikologis dari tokoh “aku” mengenai kebencian pada pekerjaan ibunya seorang tuna susila sebagai PSK, membuat tokoh “aku” menjadi anak yang membangkang.

“Wanita itu jahat.” Kujalani tahun kehidupan bersama wanita itu. 1 tahun, 2 tahun, sampai 7 tahun aku belum mengerti apa-apa. Aku masih lugu untuk mengerti, mengapa ibuku bekerja malam hari. Yang kutahu hanya kalimat yang ibu bilang sebelum pergi, “Ndok, ibu kerja dulu ya … Ndok tidur ya!”

Bahkan ketika dampak sudah terlihat (tokoh “aku” lahir) tidak memberikan efek jera pada Ibunya untuk berhenti melakukan pekerjaan hina itu. Dalam cerpen ini tidak dideskripsikan secara jelas latar belakang menyebab ibu dari tokoh “aku” sampai memilih menjadi PSK selain karena penghasilan yang didapat berlimpah yang memilih jalan tikus untuk mengumpulkan pundi rupiah. Beberapa diantaranya mungkin akan menjadi alasan karena mereka ingin hidup cukup namun dengan cara instan, perempuan PSK bukan hanya mereka yang berlatar belakang miskin harta namun karena keinginannya untuk hidup tanpa bekerja dengan susah payah.

Padahal ada banyak pekerjaan bagi perempuan yang sangat layak dengan tidak menurunkan derajat perempuan dalam hal pekerjaan dengan laki-laki. Bahkan, bagi kaum feminisme, semua pekerjaan bisa dilakukan oleh siapa saja, entah itu perempuan atau pun laki-laki semua bisa dan dapat dilakukan. Tentunya dengan memiliki pendidikan yang cukup, umur yang cukup, kemampuan yang memadai, waktu yang tersedia, serta adanya keinginan. Dan apabila ibu dari tokoh “aku” ini memenuhi kriteria tersebut terutama adanya keinginan, pastilah kesempatan bekerja terbuka lebar sehingga tidak memilih menjadi seorang PSK yang dikatakan oleh tetangga sebagai tokoh “aku” adalah anak haram dari pekerjaan yang hina itu.

Bahkan dampaknya tidak hanya pada ibunya namun juga pada tokoh “aku” yang selalu merasa hina dihadapan orang-orang yang mengetahui pekerjaan ibunya walau sudah tidak dipekerjakan lagi, PSK tetap saja PSK. Hal tersebut membuat tokoh “aku” menjadi gadis pembangkang dan meninggalkan ibunya dan memprioritaskan bersama dengan kekasihnya yang ia anggap adalah segalanya bagi tokoh “aku” dalam hidupnya karena memberikan semuanya yang ia pinta. Kebersamaan sampai pada sebuah pertemuan untuk merayakan hubungan mereka namun malah berakibat fatal dan mengalamai penyesalan seumur hidup.

Dia orang yang hinggap di hati saya. Malam itu tanggal 8 Mei 2009, sekadar untuk merayakan bulan ke-7 hubunganku dengannya, dia mengajakku ke sebuah tempat berkencan. Tanpa aku ketahui aku meminum minuman yang telah ditetesinya obat mata. Hingga hilang kesadaranku …. Lupa apa yang telah aku lakukan …. Laku tersadar …. Menyadari aku telah ia kotori. Benih dalam rahim yang ia tanam membuahkan janin. Janin yang suci hasil keharaman perbuatan orang tuanya.

Pada bagian ini, tokoh “aku” tidak mengetahui dan tidak menginginkan perbuatan hina itu terjadi padanya. Tokoh “aku” tidak selalu digambarkan dengan sikap yang buruk, namun sebelumnya yang menumbuhkan hasrat seorang laki-laki yakni adalah perlakuan, sikap dan kebiasaan dalam berbusana yang bahkan akan menimbulkan nafsu untuk melakukan seks sekalipun itu pada kekasihnya sendiri. Namun bukan berarti ia tidak sadar akan hal itu yang dianggap perkara biasa dan tanpa ia tahu bisa kapan saja menurunkan derajat kehormatannya.

Ehm, kamu pasti tahu cara berpakaian remaja sekarang. Mereka bilang kurang bahan. Lelaki bilang, “menggoda iman.” Ya … jadi mungkin itu sebabnya. Sebab nafsu telah mengalahkan cinta. Sebab setan telah dikuasai hati. Hal itu terjadi, aku tak menyangka ia yang selama ini aku cinta memberikan kasih sayang sepenuhnya. Ia nodai. Ratu 16 tahunnya. Hingga akhirnya kuketahui ada janin di rahimku. Dan ketika pangeran itu mengetahuinya, ia pergi, pergi dariku. Menghilangkan pelangi pelangi dan menggantinya dengan awan hitam, mendung, dan kilat. Bahkan lebih hitam dari luka yang dulu. Orang yang kuanggap pangeran kebahagiaan adalah pendapat yang salah. Hujan semakin deras di pipiku.

Pada kutipan tersebut menunjukkan jika kekasihnya yang dimaksud yakni “pangeran” merupakan sumber kebahagian padanya namun malah membuatnya hina dan tidak bertanggung jawab atas apa yang sudah diperbuat dengan seenak hati meninggalkan janin pada gadisnya itu. Tindakan ini menunjukkan tokoh “aku” sudah terlindas tanpa ia ketahui oleh kekasihnya yang sebelumnya yang disebut kekasihnya itu memberikan kebahagiaan, kasih sayang yang bahkan tak pernah tokoh “aku” dapatkan sebelumnya sampai gadis itu luluh dan memberikan hatinya bahkan kehormatan juga direnggut oleh kekasihnya itu tanpa adanya tanggung jawab. Dalam hal ini Suwardi Endaswara (2008:146) mengatakan salah satu sasaran penting dalam analisis feminis yakni mengungkap aspek psikoanalisa feminis, mengapa wanita lebih suka hal yang halus, emosional, penuh kasih dan lain sebagainya.

Adanya ketidakadilan dalam memadang eksistensi perempuan yang tercermin pada cerpen ini setelah mengubah segi kehidupan tokoh “aku” dan mempengaruhi setiap aspek kehidupan perempuan yang sebelumnya tidak ada perlawanan atau upaya melawan pranata yang ada.

Dan ketika pangeran itu mengetahuinya, ia pergi, pergi dariku. Menghilangkan pelangi dan menggantinya dengan awan hitam, mendung, dan kilat. Bahkan lebih hitam dari luka yang dulu. Orang yang kuanggap pangeran kebahagiaan adalah pendapat yang salah. Hujan semakin deras di pipiku.

“Huh …”

Pada kutipan tersebut menandakan jika laki-laki sebagai kekasih tokoh “aku” yang dianggapnya “pangeran” melakukan adanya tindakan kesewenang-wenangan laki-laki terhadap perempuan, sekalipun pengarang sudah menyatakan dari kesadaran tokoh “aku” jika nafsu merupakan jalan masuk terjadinya tindak kejahatan.

Ehm, kamu pasti tahu cara berpakaian remaja sekarang. Mereka bilang kurang bahan. Lelaki bilang, “menggoda iman.” Ya … jadi mungkin itu sebabnya. Sebab nafsu telah mengalahkan cinta. Sebab setan telah dikuasai hati. Hal itu terjadi, aku tak menyangka ia yang selama ini aku cinta memberikan kasih sayang sepenuhnya.

Kutipan di atas memberikan arti jika ketika nafsu sudah mendarah daging maka akan terkalahkan sekalipun yang dikatakan cinta. Pada feminisme liberal pada Herman J. Waluyo (1998) memandang perempuan itu lemah dan kapasitasnya terbatas, sehingga tidak dapat berkembang. Sehingga dapat disimpulkan pengarang memberikan gambaran jika perempuan sebagai tokoh “aku” sangat lemah dengan rayuan yang tanpa disadari menyeretnya ke dalam ruang hina.



KRITIK KARYA SASTRA ANTOLOGI CERITA PENDEK PADA BUKU MERAH PUTIH DENGAN PITA MERAH MENGGUNAKAN PENDEKATAN EKPRESIF KARYA SASTRA ANTOLOGI CERITA

Cerpen : Tentang Gadis Di Koran Itu

Nurvinda Apriyani br />

SMAN 1 Pringsewu, Lampung br />


Pendekatan yang digunakan dalam cerita ini adalah pendekatan ekpresif. Ekpresi merupakan pendekatan yang menitik beratkan perhatian kepada upaya pengarang dalam mengekpresikan ide-idenya sehingga dapat dituangkan dengan baik dalam sebuah karya sastra. Sehingga, pengarang ini berpedoman bahwa karya sastra sebagai penyaataan dunia batin dari dirinya itu yakni dalam hal ini termasuk pendekatan ekpresif. Hal ini dibuktikan setelah saya perhatikan dan membacanya, dari berbagai polemic yang ada pada cerpen Tentang Gadis Di Koran ini, pengarang mengekpresikan batin, perasaan dan pikiran sehingga menjadi satu-kesatuan yang begitu utuh dibaca sehingga adegan demi adegan mampu menguras perasaan pembaca. br />

Hasil yang ditungkan pengarang berupa gagasan, ide, cita rasa serta emosi bercampur dan beradu satu sama lain membentuk kesatuan yang utuh dalam karyanya itu. Oleh karenanya menurut saya, pengarang cukup mendalami keadaan karyanya karena penekanan hubungan antara karya sastra yang mungkin saja hanyalah ide belaka namun seolah-olah ini nyata baik batin dan maksud dari pengarang tersebut. Hingga saya pun yang membacanya terbawa emosi, haru dan greget pada setiap adegan-adegan, suasana dan jalannya sebuah cerita ini. br />


Alur yang digunakan menggunakan maju dan mundur, dikisahkan seorang gadis yang berangkat sekolah tiba-tiba terhalang oleh kerumunan di klinik bercat putih. Gadis itu memperhatikan dengan saksama walau pada akhirnya Ia pun harus berangkat sekolah dan saat pulang pun kerumunan di klinik bercat putih masih saja tak hentinya dihinggapi garis polisi, wartawan, polisi dan warga lainnya membuatnya menghentikan langkah untuk pulang ke rumahnya, hingga ia pun mengetahui apa yang terjadi setelah membaca Koran setelahnya. br />


Pengarang menjelaskan secara runtun dan jelas kehidupan seorang tokoh dengan ulasan yang begitu ciamik dan menyayat hati pembacanya. Perasaan emosi, duka, haru dan sedih turut bercampur menjadi satu. Mulanya, mengkisahkan tentang kehidupan seorang perempuan yang dilahirkan tanpa seorang Ayah, setiap kali gadis itu bertanya pada ibunya maka akan dijawab jika ia tidak mempunyai ayah karena meninggal dunia dan anehnya ibu gadis itu tak mempunyai foto suaminya satu pun hingga anaknya tak pernah tau siapa ayahnya. br />


Ibunya yang tak diketahui anaknya saat itu adalah mantan dari seorang PSK, dan tetangganya pun mengetahui hal itu. Ada atau tidak, siapa dan di mana keberadaan ayahnya dianggap sudah meninggal namun tak pernah gadis itu tahu wajah ayahnya. Perjuangan membiayai anaknya seorang diri tanpa suami adalah sebuah tanggung jawab penuh seorang ibu yang mengambil jalan haram itu, risiko ini seharusnya sudah ia pikirkan sebelum bertindak terlebih dahulu. Dan karena ulah ibunya ini, bukan hanya wanita PSK itu yang menjadi bulan-bulanan masyrakat juga anak gadisnya yang bahkan tak tahu apa-apa selalu diolok-olok dengan begitu menyedihkan, penyesalan yang datang terlambat hingga sesak sakit selalu membayang diri di pikiran wanita PSK itu. br />


Berkali-kali pula anaknya dikatakan dan di cap anak haram, ia tak mengerti akan hal itu. Namun setelah waktu demi waktu gadis itu lalui, saat usia 7 tahun, semuanya di mulai. Gadis itu mulai mengerti akan keadaannya. Kekesalan, kebencian saling beradu menimbun batin dan pikirannya, orang itu sangat membuatnya malu karena disebut-sebut wanita tuna susila, orang itu adalah ibunya sendiri. Perlakuan tak mengenakkan tak hanya dilakukan oleh tetangga namun juga pada anaknya sendiri, bentakan kasar dan cemoohan mampu membuat air mata ibunya menetes drastic secara nyata tanpa dipikirkan dahulu oleh anaknya karena memang dirasa benar yang diucapkan. Pengarang cukup pandai dalam mengolah kata menjadi kalimat yang utuh, ditimpa beberapa penjelasan dengan bentuk awalan kalimat pengulangan bisa menjadikan pembacanya ikut geram membaca cerita ini. menyampaian perasaan yang sangat sesuai. Namun akan hal itu, gadis ini pun tahu ibunya mencintai dirinya namun ia juga sadar jika orang yang disebut ibunya itu juga menaruh luka yang cukup perih baginya. br />


Beberapa kali si gadis ini tersadar namun apa yang ia lakukan adalah benar adanya jika ibunya ini sangat membuatnya malu, sangat malu pada mereka yang mengetahui jika diirnya adalah anak PSK. Kisahnya cukup memilukan dan tragis, dibagian tengah cerita, Gadis ini tak terima sebagai anak PSK. Hal itulah yang membuatnya menjadi anak yang durhaka, seperti memaksa ibunya untuk memberi uang padahal umur ibunya semakin lama semakin berukurang dan tentu tenaganya mulai melemah. Gadis SMA yang sudah beranjak remaja itu menyadari jika, fisiknya mulai keluar serta auranya mampu menarik perhatian lawan jenisnya, ia ingin merawat dirinya dan tentunya itu membutuhkan biaya. Gadis itu melarikan diri ke kontrakan dan meninggala]kan ibunya. Hingga seorang laki-laki ikut terkaget akan aura gadisnya itu, seorang laki-laki yang baik baginya, sosok ayah ada pada orang itu. perhatian dan kasih sayang nyaris diberikan padanya. Dan laki-laki itu memberikan apa yang gadis itu inginkan, didambakan, dan dibutuhkan, sejak saat itu rasa bahagianya ada pada laki-laki itu. Namun ada yang salah di sini, yakni cara berpakaian gadis itu yang terlampau jika dilihat akan menimbulkan nafsu bagi kaum adam yang melihatnya terutama laki-laki yang sedang dekat dengannya. Hingga terjadilah, cinta mengalahkan nafsu dan setan telah menguasai hati dan penyesalan pun datang saat waktu yang tak sempat disadarkannya, hingga luka lama seakan semakin menganga dan tambah perih terasa. Ia sudah ketumpahan ucapannya sendiri. br />


Ini dua kali lipat lebih sakit dari rasa sakit dan malu yang gadis ini derita, mula-mula ibunya yang membuatnya malu hingga kini ia sendiri yang mampu menambha malu tak hanya bagi dirinya sendiri melainkan juga Ibunya. tangis dan penyesalan kesedihan mewarnai setiap waktunya, kekeceewaan yang tak pernah kian menepi sebab laki-laki yang sudah ia anggap adalah ayahnya sendiri yang memberikan semua yang ia mau, yang ia dambakan dan yang ia butuhkan tega-teganya meninggalkannya dalam keadaan seperti saat ini. br />


Pengarang memberikan gambaran yang cukup sederhana sehingga keseluruhan isi dapat dipahami dengan baik oleh pembaca, tak perlu merenyitkan dahi untuk menafsirkan maksud yang pengarang tulis ini, bahasa yang digunakan ringan namun penuh dengan perasaan. Di akhir cerita, gadis itu memilih untuk mengarborsi janinnya di sebuah klinik berwarna putih, meskipun begitu Gadis itu terus dihantui rasa bersalah dan penyesalannya, yang pada saat itu, malam yang begitu larut mampu mengantarkannya pada mimpi tidurnya hingga ia pun tersadar sebab ada bisikan lembut dari ibunya yang sudah ia tinggalkan sendiri semenjak bertemu dengan lelaki itu yang memberi segalanya. Wanita itu berkata, “Ibu tahu kamu malu, tapi apa pun balasanmu terhadap ibu, kamu akan tetap di hati Ibu, semangat hidup ibu, ndok.” Gadis itu mendatangi ibunya yang sudah tua rentak tinggal sendiri dan merawat hidup sendiri tanpa ada yang mau mengasihinya, ia temukan ibunya ada di ranjang dengan mata yang tertutup namun napas yang masih berhembus, kata penyesalan pun diucapkannya. br />


Dibagian ini keadaan benar-benar memilukan, pengarang memberikan keadaan yang sangat menyentuh hati, pengorbanan seorang ibu dan penyesalan akan kesalahan yang diperbuat dan ia sudah bisa belajar akan kesalahannya itu namun tetap saja anaknya tak bisa menerima lagi hingga saat ini anak gadisnya juga mengalami hal serupa namun tak sama. Sampai maut menjemput hanya seutas kata penyesalan yang diucapkan pada ibunya. hanya beberapa saatnya gadis itu tak dapat lagi melihat wajah ibunya. br />


Kabar pun menyebar luas tatkala misteri klinik bercat putih tentang ditemukan jasad 20 bayi yang terkubur di sana, kabar Koran pun hadir menyelimuti anak yang akan pulang ke rumah itu. yakni salah satunya adalah seorang gadis SMA berusia 16 tahun anak seorang tunasusila yang diperkosa oleh pacarnya sendiri, ia adalah tersangka yang mengugurkan kandungannya di klinik itu, adalah gadis yang malang yang kini berada di jeruji besi. br />


Penekanan dalam mencurahkan serta mengungkapkan segala bentuk pikiran, perasaan adalah prosesnya dalam penciptakan karya sastra yang erat kaitannya di cerita ini, sangat kompleks dalam mengekpresikan ide-idenya menjadi sebuah karya yang memiliki nilai-nilai ekstetika yang dapat dirasakan oleh pengarang pada saat ia membuat tulisan ini. Adegan demi adegan dirinci sedemikian indah sampai pada akhir cerita yang cukup tragis.


LAMPIRAN

SINOPSIS CERPEN TENTANG GADIS DI KORAN ITU

Mengkisahkan tentang kehidupan seorang perempuan yang dilahirkan tanpa seorang Ayah, setiap kali gadis itu bertanya pada ibunya maka akan dijawab jika ia tidak mempunyai ayah karena meninggal dunia dan anehnya ibu gadis itu tak mempunyai foto suaminya satu pun hingga anaknya tak pernah tau siapa ayahnya.

Ibunya yang tak diketahui anaknya saat itu adalah mantan dari seorang PSK, dan tetangganya pun mengetahui hal itu. Ada atau tidak, siapa dan di mana keberadaan ayahnya dianggap sudah meninggal namun tak pernah gadis itu tahu wajah ayahnya. Perjuangan membiayai anaknya seorang diri tanpa suami adalah sebuah tanggung jawab penuh seorang ibu yang mengambil jalan haram itu, risiko ini seharusnya sudah ia pikirkan sebelum bertindak terlebih dahulu. Dan karena ulah ibunya ini, bukan hanya wanita PSK itu yang menjadi bulan-bulanan masyrakat juga anak gadisnya yang bahkan tak tahu apa-apa selalu diolok-olok dengan begitu menyedihkan, penyesalan yang datang terlambat hingga sesak sakit selalu membayang diri di pikiran wanita PSK itu.

Berkali-kali pula anaknya dikatakan dan di cap anak haram, ia tak mengerti akan hal itu. Namun setelah waktu demi waktu gadis itu lalui, saat usia 7 tahun, semuanya di mulai. Gadis itu mulai mengerti akan keadaannya. Kekesalan, kebencian saling beradu menimbun batin dan pikirannya, orang itu sangat membuatnya malu karena disebut-sebut wanita tuna susila, orang itu adalah ibunya sendiri. Perlakuan tak mengenakkan tak hanya dilakukan oleh tetangga namun juga pada anaknya sendiri, bentakan kasar dan cemoohan mampu membuat air mata ibunya menetes drastic secara nyata tanpa dipikirkan dahulu oleh anaknya karena memang dirasa benar yang diucapkan. Namun akan hal itu, gadis ini pun tahu ibunya mencintai dirinya namun ia juga sadar jika orang yang disebut ibunya itu juga menaruh luka yang cukup perih baginya.

Beberapa kali si gadis ini tersadar namun apa yang ia lakukan adalah benar adanya jika ibunya ini sangat membuatnya malu, sangat malu pada mereka yang mengetahui jika diirnya adalah anak PSK. Gadis ini tak terima sebagai anak PSK. Hal itulah yang membuatnya menjadi anak yang durhaka, seperti memaksa ibunya untuk memberi uang padahal umur ibunya semakin lama semakin berukurang dan tentu tenaganya mulai melemah. Gadis SMA yang sudah beranjak remaja itu menyadari jika, fisiknya mulai keluar serta auranya mampu menarik perhatian lawan jenisnya, ia ingin merawat dirinya dan tentunya itu membutuhkan biaya. Gadis itu melarikan diri ke kontrakan dan meninggala]kan ibunya. Hingga seorang laki-laki ikut terkaget akan aura gadisnya itu, seorang laki-laki yang baik baginya, sosok ayah ada pada orang itu. perhatian dan kasih sayang nyaris diberikan padanya. Dan laki-laki itu memberikan apa yang gadis itu inginkan, didambakan, dan dibutuhkan, sejak saat itu rasa bahagianya ada pada laki-laki itu. Namun ada yang salah di sini, yakni cara berpakaian gadis itu yang terlampau jika dilihat akan menimbulkan nafsu bagi kaum adam yang melihatnya terutama laki-laki yang sedang dekat dengannya. Hingga terjadilah, cinta mengalahkan nafsu dan setan telah menguasai hati dan penyesalan pun datang saat waktu yang tak sempat disadarkannya, hingga luka lama seakan semakin menganga dan tambah perih terasa. Ia sudah ketumpahan ucapannya sendiri.

Ini dua kali lipat lebih sakit dari rasa sakit dan malu yang gadis ini derita, mula-mula ibunya yang membuatnya malu hingga kini ia sendiri yang mampu menambha malu tak hanya bagi dirinya sendiri melainkan juga Ibunya. tangis dan penyesalan kesedihan mewarnai setiap waktunya, kekewaan yang tak pernah kian menepi sebab laki-laki yang sudah ia anggap adalah ayahnya sendiri yang memberikan semua yang ia mau, yang ia dambakan dan yang ia butuhkan tega-teganya meninggalkannya dalam keadaan seperti saat ini. Di akhir cerita, gadis itu memilih untuk mengarborsi janinnya di sebuah klinik berwarna putih, meskipun begitu Gadis itu terus dihantui rasa bersalah dan penyesalannya, yang pada saat itu, malam yang begitu larut mampu mengantarkannya pada mimpi tidurnya hingga ia pun tersadar sebab ada bisikan lembut dari ibunya yang sudah ia tinggalkan sendiri semenjak bertemu dengan lelaki itu yang memberi segalanya. Wanita itu berkata, “Ibu tahu kamu malu, tapi apa pun balasanmu terhadap ibu, kamu akan tetap di hati Ibu, semangat hidup ibu, ndok.” Gadis itu mendatangi ibunya yang sudah tua rentak tinggal sendiri dan merawat hidup sendiri tanpa ada yang mau mengasihinya, ia temukan ibunya ada di ranjang dengan mata yang tertutup namun napas yang masih berhembus, kata penyesalan pun diucapkannya, pengorbanan seorang ibu dan penyesalan akan kesalahan yang diperbuat dan ia sudah bisa belajar akan kesalahannya itu namun tetap saja anaknya tak bisa menerima lagi hingga saat ini anak gadisnya juga mengalami hal serupa namun tak sama.

Sampai maut menjemput hanya seutas kata penyesalan yang diucapkan pada ibunya. hanya beberapa saatnya gadis itu tak dapat lagi melihat wajah ibunya. Kabar pun menyebar luas tatkala misteri klinik bercat putih tentang ditemukan jasad 20 bayi yang terkubur di sana, kabar Koran pun hadir menyelimuti anak yang akan pulang ke rumah itu. yakni salah satunya adalah seorang gadis SMA berusia 16 tahun anak seorang tunasusila yang diperkosa oleh pacarnya sendiri, ia adalah tersangka yang mengugurkan kandungannya di klinik itu, adalah gadis yang malang yang kini berada di jeruji besi. Penekanan dalam mencurahkan serta mengungkapkan segala bentuk pikiran, perasaan adalah prosesnya dalam penciptakan karya sastra yang erat kaitannya di cerita ini, sangat kompleks dalam mengekpresikan ide-idenya menjadi sebuah karya yang memiliki nilai-nilai ekstetika yang dapat dirasakan oleh pengarang pada saat ia membuat tulisan ini. Adegan demi adegan dirinci sedemikian indah sampai pada akhir cerita yang cukup tragis

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MATERI KEPENULISAN

FONOLOGI

SEMANTIK